Jumat, 25 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 25 Mei 2012 | 01:37 WIB
JEDA
Merak, Jangan Sekadar Transit
| Senin, 6 September 2010 | 02:53 WIB
|
Share:

C ANTO SAPTOWALYONO

Mobil derek itu terengah-engah menarik sebuah mobil untuk memasuki palka kapal feri penyeberangan. Urusan kian rumit bila hujan turun lantaran dermaga Merak, Banten, masih tanah, sehingga genangan air dan kubangan lumpur ada di mana-mana. 

Itu kondisi Merak tahun 70-an ketika belum seperti sekarang,” kata Alexander Simanungkalit.

Sejarah Pelabuhan Merak sebenarnya lebih lama lagi, dimulai jauh sebelum Alexander beroleh kehidupan.

Nukilan catatan yang disimpan Gapasdap Merak menyatakan, dahulu kala hubungan Jawa dengan Sumatera telah dirintis dengan ”kapal tambang”.

Bagaimana bentuknya? Entah, nyaris tiada dokumentasinya. Padahal, bila bentuknya dapat direkonstruksi, bukankah indah bila replikanya dapat dipajang.

Dan, tahun 2010 ini telah menjelang seabad berlalu sejak Staats Spoorwegen (SS) merintis angkutan penyeberangan yang profesional. Perusahaan kereta api itu memang telah sejak tahun 1912 melayarkan Kapal Conventional seiring dibukanya lintas Pelabuhan Merak (Banten)-Panjang (Lampung) oleh pemerintah kolonial.

SS mengoperasikan Kapal Conventional dengan pertimbangan matang mendahului zaman, yakni mengoperasikan beberapa moda transportasi, mengombinasikan angkutan intermoda! Terlebih tahun 1914, SS telah menuntaskan jalur rel Cilegon-Merak setelah sebelumnya mengoperasikan kereta pada lintas rel Batavia-Anjer Kidoel.

Namun, saat nasionalisasi merebak tahun 1957, republik sempat melarang kapal kerajaan Belanda berlayar. Baru dua tahun kemudian Djawatan Kereta Api mengambil alih penyeberangan Merak-Panjang dengan mengoperasikan tiga kapal motor feri (KMF), yakni KMF Halimun, KMF Krakatau, dan KMF Bukit Barisan.

Dua dekade berikutnya, yakni tahun 1977, ketika Pelabuhan Srengsem (dekat Panjang) diresmikan, dimulailah penyeberangan dengan kapal roll on-roll off (ro-ro). Kapal jenis itu berbentuk datar, flat seperti gabus di tengah laut, tetapi daya tampungnya lebih banyak.

Hari-hari ini, bila Anda mudik ke Sumatera dengan berjalan menyusuri jembatan penghubung penumpang atau gangway di Pelabuhan Merak, tak ada salahnya mengenang sejarah panjang pelabuhan ini. Bayangkan, dalam bingkai hitam-putih, tatkala ”lapangan parkir” Merak masih tanah becek, dan sebuah mobil Austin Seven sedang diderek memasuki kapal feri.

Melangkah

Saat ini Pelabuhan Merak makin berkembang, melangkah maju. Dari hanya satu dermaga, mulai tahun 2010 ini telah dioperasikan Dermaga V.

Perlintasan juga bukan lagi dari Merak ke Srengsem, tetapi sejak 1 Juni 1981 sudah dilayari Merak-Bakauheni untuk memperpendek lintasan. Tahun berganti dan makin banyak operator berlayar di lintas itu.

Total, terdapat 33 unit armada kapal ro-ro berukuran 2.553 gross ton hingga 12.498 gross ton. Kapal tak lagi hanya mengangkut satu hingga dua mobil, tetapi rata-rata 109 kendaraan dari berbagai jenis.

Meski beberapa kali mati karena kegagalan sistem, Pelabuhan Merak-Bakauheni juga telah mengoperasikan sistem tiket elektronik. Inilah pelabuhan penyeberangan pertama di Indonesia dengan sistem e-tiket.

Meski demikian, Pelabuhan Merak ini hanya menjadi lokasi transit. Itulah nasib Merak. Tak pernah Merak dijadikan ”sasaran antara” atau perhentian sebelum menyeberangi Selat Sunda.

Memang, hakikat pelabuhan ya berfungsi melayani. Namun, tidakkah terpikir bagi PT Indonesia Ferry (Persero) untuk menampilkan sesuatu yang berbeda selama mudik ini sehingga Merak jadi mengesankan?

Bisakah ditampilkan pagelaran ”Rampak Bedug” di ruang tunggu pelabuhan? Atau mengorganisasi pedagang makan an khas Banten di titik-titik yang memungkinkan?