Jumat, 25 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 25 Mei 2012 | 01:37 WIB
ANGKUTAN LEBARAN
Kondisi Bus dan Sopir Harus "Siap Tempur"
| Senin, 6 September 2010 | 03:55 WIB
|
Share:

Memasuki musim mudik Lebaran, kepala-kepala terminal bus antarkota di Jakarta mengetatkan aturan main bus antarkota. Pengemudi harus menjalani uji urine. Bus-bus pun harus memenuhi syarat kelaikan.

Awalnya, uji urine diberlakukan terhadap para pengemudi bus yang melayani jalur arus balik mudik ke Jakarta. Kala itu, banyak kecelakaan terjadi karena untuk ”mengganjal” mata, para pengemudi menenggak alkohol, narkoba, atau minum minuman berkafein tinggi.

Konsentrasi mengemudi mereka buyar saat memasuki Jalan Tol Cikampek hingga menjelang persimpangan Cawang. Kini, uji urine diberlakukan kepada para sopir bus sejak sepekan sebelum dan setelah Lebaran.

Sekitar tiga tahun lalu, uji urine ditambah dengan uji kelaikan bus. Penyapu kaca, lampu besar-kecil, depan-belakang, lampu hazard, lampu sein, sistem rem, sistem kemudi dan ban-ban bus tak luput dari pemeriksaan para petugas Dinas Perhubungan DKI Jakarta. Uji kelaikan berawal dari banyaknya bus cadangan yang tidak laik jalan karena memang tidak disiapkan untuk perjalanan jauh dan kemacetan panjang.

Bakal menyesal

Apa komentar pengemudi bus Setia Negara, Nano Suratno (50), dan pengemudi bus Sinar Jaya, Yanto (42), tentang uji urine sopir dan uji kelaikan bus?

Menurut mereka, setiap pengelola perusahaan bus antarkota dan para pengemudinya sudah harus melakukan uji kelaikan dan uji kesehatan sopir lebih ketat lagi.

”Apa yang dilakukan para petugas di terminal bus itu hanya sebagai peringatan terhadap para pengelola perusahaan bus dan para pengemudi agar melakukan hal serupa lebih ketat. Jadi, apa yang dilakukan para petugas itu cuma mengingatkan saja,” tegas Yanto.

Nano yang sudah lebih dari 28 tahun menjadi sopir bus antarkota menambahkan, mereka yang teledor bakal menyesal melewatkan rezeki melimpah yang hanya datang pada musim Lebaran. ”Hanya dalam musim Lebaran kami bisa memperoleh pendapatan hingga empat kali lipat dibanding di hari-hari lainnya. Waktunya pun maksimal cuma 10 hari.”

Menurut dia, di hari biasa, bus di perusahaannya hanya diperiksa sepekan sekali, tetapi saat musim Lebaran, ”Begitu tiba di tujuan, bus langsung masuk kandang dan dikeroyok para mekanik,” tuturnya.

Yanto menyampaikan hal senada. ”Ongkos bus rewel di jalan atau mengalami kecelakaan di jalan bisa jauh lebih besar ketimbang panen pendapatan musim Lebaran kami,” ujarnya.

Kedua pengemudi mengakui, pelayanan publik kian membaik karena persaingan yang kian ketat. ”Yang tidak siap menjadi pelayan terbaik, bakal ditinggal,” kata Nano bersemangat.

(WINDORO ADI)