JAKARTA, KOMPAS.com - Memasuki hari terakhir bulan Ramadhan, biasanya masyarakat Indonesia melakukan konvoi takbiran disertai dengan pukul bedug mengelilingi kota. Akan tetapi, tradisi ini rupanya mulai ditinggalkan. "Di sini kita tidak mengadakan konvoi karena memang tidak sesuai dengan sunah nabi," ujar pengurus Yayasan Al-Hawi, Rudiansyah, Kamis (9/9/2010), di Condet, Jakarta.
Ia melanjutkan bahwa tradisi yang disarankan adalah dengan melafazkan takbir pada malam sebelum Idul Fitri hingga empat hari kemudian usai shalat wajib. Ketiadaan konvoi ini juga diungkapkan Rudiansyah karena banyak warga yang sudah pulang mudik sehingga sudah semakin sedikit yang berkumpul di masjid.
"Sebagai gantinya kita hanya mengadakan takbir bersama pakai mike di masjid, tanpa ada pukul bedug. Setelah itu mereka akan lanjutkan takbir di rumah masing-masing," ungkapnya kepada Kompas.com.
Hal yang sama juga terjadi pada masyarakat di sekitar Masjid At-Tin, Jakarta Timur. Mereka tidak melakukan konvoi karena adanya larangan pemerintah. "Di daerah sini sudah jarang ada konvoi. Kan udah dilarang," ungkap salah seorang remaja yang tengah menunggu waktu takbiran di masjid At-Tin.
Sebagai gantinya, ia beserta keluarga pun hanya takbiran di masjid sambil melakukan kegiatan pukul bedug yang ada di masjid itu.
Selain faktor larangan dan tidak sesuai sunah, tradisi konvoi takbir boleh jadi mulai berkurang lantaran cuaca yang tidak mendukung. Mulai pukul 15.30-16.30 wilayah Jakarta Timur diguyur hujan lebat. Menurut data BMKG, hari ini sejumlah daerah akan diguyur hujan ringan dengan kilat dan hujan lebat sesekali seperti di Jakarta Utara, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Depok, Bogot, dan sekitarnya.


