Beritajakarta.com
Ilustrasi
JAKARTA, KOMPAS.com - Ajang pemilihan duta pariwisata Jakarta Barat dari etnis Tionghoa atau yang biasa dikenal dengan Koko-Cici (Koci) tahun ini masih terjadi simpang-siur. Bahkan, ajang pemilihan yang sama pada 2010 lalu gagal dilaksanakan, meski sudah dianggarkan sehingga anggarannya pun kembali diserahkan ke kas daerah.
Hal itu mengundang pertanyaan Wali Kota Jakarta Barat Burhanuddin, karena sebagai duta pariwisata Koko-Cici sangat diperlukan untuk mempromosikan potensi pariwisata di Jakarta Barat. Burhanuddin pun meminta Sudin Pariwisata Jakarta Barat mengevaluasi gagalnya pemilihan Koko-Cici tersebut, terlebih di Jakarta Barat banyak peninggalan sejarah yang berkaitan dengan etnis Tionghoa.
“Koko-Cici sebagai duta wisata untuk mengangkat kembali identitas kultural Tionghoa yang boleh dikatakan sudah tenggelam puluhan tahun. Di Jakarta Barat tidak hanya banyak peninggalan sejarahnya, tapi juga banyak warga keturunan etnis Tionghoanya. Jadi, apa alasannya sampai tidak terselenggara? Saya perlu tahu,” tegasnya, Rabu (19/1/2011).
Tidak hanya itu, peran Koko-Cici selama ini juga tidak terlihat, karena saat dibutuhkan dalam setiap acara finalis Koko-Cici justru tidak hadir, tidak seperti finalis Abang-None yang selalu aktif setiap ada acara digelar.
“Saya tidak tahu, kok saat dibutuhkan Koko-Cici suka sering tidak ada?” kata salah seorang PNS di Wali Kota Administrasi Jakarta Barat, yang enggan disebut namanya.
Johan (55), pencetus ajang Koko-Cici mengatakan, ke depan pemilihan Koko-Cici perlu dikaji. Dia juga melihat banyaknya campur tangan pihak swasta dalam setiap penyelegaraan, karena dari awal sampai akhir dikendalikan oleh event organizer yang ditunjuk untuk menyelenggarakan kegiatan tersebut.
“Saya mau ke depan ajang tersebut seluruhnya dikendalikan oleh Sudin Pariwisata,” ungkapnya.
