JAKARTA, KOMPAS.com — Enam hari menjelang Imlek, yang jatuh pada 3 Februari 2011, sudah telihat antusiasme masyarakat mempersiapkan perayaan tersebut.
Kesibukan pedagang pernak-pernik Imlek di Pasar Pancoran, Jakarta Barat, sudah mulai terlihat Rabu (26/1/2011). Pembeli pun memadati area pusat penjualan serba merah dan emas ini.
Kawasan ini memang terkenal sebagai pusatnya penjualan pernak-pernik Imlek, mulai dari pohon sakura, lampion, kue keranjang, angpau, gantungan kelinci, pajangan kucing, lilin merah, sampai pakaian khas Tiongkok.
"Saya memang sengaja datang dari Bekasi ke sini buat beli perlengkapan Imlek. Banyak pilihannya di sini, harganya juga lebih murah dari tempat lainnya," kata seorang pengunjung Pasar Pancoran, Rina (36).
Barang-barang yang dijual sangat bervariasi seperti pohon sakura, kertas angpau, gantungan kunci, lampion, gantungan kertas, hio, pakaian khas China, patung dewa, sampai petasan elektrik banyak dijual di sana.
Harga yang ditawarkan sesuai dengan ukurannya. Lampion dijual bervariasi mulai yang paling kecil seharga Rp 27.000 sampai yang paling besar Rp 190.000-Rp 200.000.
Pernak-pernik aksesori berukuran kecil dipatok mulai dari harga Rp 3.000 sampai Rp 30.000. Selain di Pasar Pancoran, kegiatan yang sama juga terlihat di Pasar Pagi yang terletak tidak jauh dari Pasar Pancoran.
Di pasar tersebut juga ditawarkan banyak macam pernak-pernik kebutuhan Imlek. "Saya berjualan dari pernak-pernik kecil sampai guci yang harganya Rp 2.000.000. Tapi, biasanya orang cari yang murah-murah. Kayak lampion, pohon sakura, hiasan dinding," kata Lukman (61), yang sudah 20 tahun bejualan di Pasar Pagi, Glodok.
Lukman mengaku senang dengan adanya tradisi perayaan Imlek. Selain pembeli jadi ramai, pendapatannya pun meningkat tajam. "Biasanya kalau lagi sepi, paling saya cuma dapat Rp 2-3 juta. Tetapi, kalau lagi ada perayaan, bisa dua kali lipatnya, bisa dapat Rp 5 juta. Kalau hari libur, bisa lebih," ujarnya.
