Sabtu, 1 November 2014

News / Megapolitan

Pembunuhan

Pemulung Tewas Dibuang ke Dalam Jamban

Senin, 7 Februari 2011 | 08:33 WIB

DEPOK, KOMPAS.com - Kehidupan Yopi Maypo (60) memang keras. Di tengah belitan persoalan ekonomi, Yopi juga menghadapi persoalan rumah tangga. Tidak ada yang menduga pemulung ini ditemukan oleh warga dalam keadaan tewas terpendam di dalam tempat pembuangan tinja.

Tempat ini jaraknya hanya sekitar empat meter di sisi utara rumah kontrakannya, RT 07/RW 20, Kelurahan Bakti Jaya, Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok, Jawa Barat. Di lubang pembuangan itu, warga menemukan Yopi tanpa pakaian atas dan hanya bercelana pendek terduduk dalam urukan tanah. Ada luka bacok di bagian kepala, punggung atas, dan bawah.

Dugaan sementara nyawa Yopi dihabisi temannya sendiri, berinisial Anu (60). Istri Yopi, Suminah (40), menyampaikan hal ini kepada penyidik Kepolisian Sektor Metro Sukmajaya, Depok, Minggu (6/2/2011). Suminahlah yang memberi tahu lokasi Yopi dipendam oleh Anu.

Sambil menangis, Suminah menceritakan persoalan ini kepada polisi. Suminah mendapatkan informasi tersebut dari pengakuan Anu kepadanya.

Polisi menduga Yopi dibunuh lebih dari seminggu. Dugaan ini sesuai dengan kondisi tubuh jenazah Yopi yang membengkak, pucat, sebagian kulit mengelupas, dan menebarkan bau busuk.

Hanya sembilan jam setelah mayat Yopi ditemukan, polisi menyergap Arnold Sahanaya alias Anu (60) yang diduga sebagai pembunuh Yopi. Penangkapan ini terjadi Sabtu lalu pukul 23.00 di wilayah Cempaka Putih, Jakarta Pusat.

Kepala Kepolisian Resor Metro Depok Komisaris Besar Fery Abraham menduga, motif pembunuhan adalah cinta segitiga antara Yopi, Anu, dan Suminah. Anu tidak tega melihat Yopi melakukan kekerasan kepada Suminah. Polisi saat ini tengah menyelidiki dugaan keterlibatan istri korban.

Polisi menangkap Anu di sebuah rumah tempat perkumpulan orang-orang Maluku. Tak ada perlawanan ketika polisi menangkap Anu. Ia juga mengakui perbuatannya membunuh Yopi.

Pertengkaran

Yopi memang tidak tercatat sebagai penduduk tetap di Kelurahan Bakti Jaya. Rumah kontrakan yang hanya punya satu kamar dan dua dipan itu pun tidak punya nomor. Satu kamar ditempati Yopi beserta tiga anak dan istrinya. Satu dipan di ruang tengah ditempati An yang menumpang tinggal selama enam bulan. Adapun benda paling berharga di rumah ini ialah televisi dan radio buatan China. Selebihnya terdapat alat-alat mencari sampah.

Rekan kerja dan tetangga mengenal Yopi sebagai sosok yang keras. Ia sering memarahi anaknya kelewat batas, begitu juga kepada istrinya.

Amir (33), rekan pemulung Yopi, sempat menerima keluhan Suminah, istri Yopi. ”Kalau aku sudah nimbang (menimbang sampah), aku mau kabur ke Semarang. Aku sudah tidak tahan,” tutur Suminah kepada Amir.

Tekad ini benar-benar dilakukan Suminah sebulan sebelum Yopi ditemukan tewas. Suminah pergi dengan membawa tiga anaknya, Maria (4), Siti (13), dan Kiki (8). Namun, Yopi kemudian menyusul Suminah dan membawa Maria ke Depok. Sesampainya di Depok, Yopi menitipkan Maria di rumah Amir.

”Tiga minggu lalu, tepatnya malam Senin, Yopi sudah tidak ada di rumahnya. Hanya Anu yang ada. Dia bilang Yopi pergi ke Ambon,” kata Amir.

Iyah (40), tetangga Yopi, mengakui hal serupa. Yopi sering bertindak keras kepada anak dan istrinya. Suatu hari, istrinya pernah ketakutan ngumpet di rumah Iyah karena ribut dengan Yopi. Iyah mengaku takut jika ada keributan di dalam rumah Yopi. Namun, ia tidak tahu persis, apa yang mereka ributkan.

Pihak keluarga Yopi menduga, ada motif cemburu. Pasalnya, adik Yopi bernama Yeti (54) mengatakan, Anu menyukai Suminah, istri Yopi.

Sayangnya, kehidupan keras di dalam rumah Yopi hanya terdengar tetangga dan rekan sesama pemulung. Pihak RT, RW, maupun kelurahan tidak mengenal Yopi. Bahkan, pihak RT setempat sempat menolak mengurus nyawa Yopi karena bukan sebagai warga resmi.

”Saya tidak kenal dia. Saya juga tidak tahu apakah dia warga saya atau tidak,” kata Lurah Bakti Jaya M Saiun Ali Mukti. Inilah nasib duafa. (Andy Riza Hidayat)


Editor : Hertanto Soebijoto
Sumber: