Lahirnya Kebiasaan Baru Warga Kota - Kompas.com

Lahirnya Kebiasaan Baru Warga Kota

Kompas.com - 14/02/2011, 15:33 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Keramaian sepeda dan pejalan kaki memenuhi sepanjang Jalan Sudirman-Thamrin, Minggu (13/2/2011) pagi. Mereka mendominasi jalan yang biasanya dipadati oleh mobil, sepeda, dan bus kota.

”Hari bebas kendaraan bermotor (HBKB) seperti ini sangat menyenangkan karena kami bisa bersepeda dengan aman tanpa harus berebut dengan kendaraan bermotor,” ucap Silvi, warga Cilandak yang saban Minggu bersepeda di jalan itu.

Inilah bukti bahwa sebuah regulasi dengan keberpihakan kepada masyarakat bisa mengubah kebiasaan warga kota.

Warga kota akan menyesuaikan dengan regulasi jika mereka juga bisa merasakan manfaatnya.

Pengamat perkotaan Nirwono Joga mengatakan, seandainya HBKB bisa diberlakukan setiap hari Minggu pada seluruh jalan yang sudah dilalui bus transjakarta, hal itu akan membuat warga kota terbiasa menggunakan transportasi publik.

Jalan Sudirman-Thamrin memang menjadi awal digelarnya HBKB di Jakarta. HBKB mengubah jalan protokol dan pusat bisnis yang selalu dilintasi kendaraan bermotor menjadi arena aktivitas warga tanpa kendaraan bermotor. Satu-satunya kendaraan bermotor yang bebas melenggang adalah bus transjakarta.

Kesempatan ini mendapatkan sambutan luar biasa mulai dari pengguna sepeda, pejalan kaki, hingga warga yang bermain bola kaki tumpah di sepanjang jalan ini. Saban minggu sekitar 10.000 orang tumpah di sepanjang jalan selama pelaksanaan HBKB mulai pukul 06.00-12.00.

Komunitas bersepeda juga ikut menyemarakkan HBKB yang digelar dua kali dalam sebulan. Komunitas Sepeda Menteng (Kossmen), misalnya, ikut HBKB bersama sekitar 150 anggotanya yang berasal dari Kelurahan Menteng, Jakarta Pusat.

Sementara sekitar 40-70 anggota komunitas Bike to Work (B2W) ikut menjaga kesterilan ruas jalan yang ditutup untuk kendaraan bermotor di Monas hingga Bundaran HI. Setiap perempatan dijaga beberapa anggota B2W. Mereka juga mengingatkan para pengguna sepeda dan pejalan kaki agar berhati-hati saat akan tiba di perpotongan jalan dengan kendaraan bermotor.

Yono, anggota B2W yang ikut berjaga, mengatakan, HBKB akhir bulan biasanya ramai luar biasa. ”Selain ramai oleh warga, ada juga booth-booth yang digelar di sepanjang Jalan Thamrin,” kata dia.

Walaupun tidak semeriah HBKB akhir bulan, sejumlah pedagang menggelar dagangan di trotoar, sekitar 200 meter sebelum Bundaran HI. Selain sejumlah produsen sepeda yang memajang produk, juga ada pedagang dan pembuat aksesori untuk penggemar gowes.

Ardimah, warga Cipulir, membawa aneka produk celana dan baju untuk pesepeda, manset, sarung tangan, dan tas. Sebagian barang dibuatnya sendiri dan dipasarkan dengan harga mulai Rp 50.000 sampai Rp 200.000. ”Berjualan di sini lumayan ramai. Setiap kali HBKB omzet penjualan saya mencapai Rp 1 juta-Rp 2 juta,” kata Ardimah yang sudah berjualan sejak tiga bulan terakhir.

Kepala Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah DKI Peni Susanti mengatakan, saat ini baru HBKB Sudirman-Thamrin yang diadakan dua kali sebulan. Adapun HBKB di lima wilayah diadakan dua kali setahun pada minggu ketiga. (FRO/NEL/ART)

EditorHertanto Soebijoto

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM