Jumat, 31 Oktober 2014

News / Megapolitan

Kehidupan

Hamil 3 Bulan Nekat Kawin Kontrak

Jumat, 10 Juni 2011 | 09:48 WIB

BOGOR,  KOMPAS.com — Karena membutuhkan uang untuk menghidupi keluarganya, tanpa memedulikan kondisi tubuh yang tengah hamil, seorang perempuan berinisial S (24) rela menjalani kawin kontrak dengan pria Timur Tengah di Cisarua, Puncak, Bogor.

Sayangnya, sebelum perkawinan sesaat itu terjadi, warga Cigombong, Kabupaten Bogor, itu tertangkap razia petugas gabungan Desa Tugu Utara, Kepolisian Sektor Cisarua, dan Koramil Cisarua, Rabu (8/6/2011) malam di sebuah vila. Dalam razia yang berlangsung selama empat jam (pukul 19.00-23.00) tersebut, petugas juga mengamankan tujuh perempuan lain yang diduga akan melakukan kawin kontrak seperti halnya S.

Sejumlah petugas yang ikut dalam razia itu kaget manakala melihat perut S besar. Ketika ditanya petugas, wanita berparas manis ini mengaku tengah hamil tiga bulan. "Saya terpaksa melakukan ini, Pak. Saya tidak punya pekerjaan lain. Saya harus membiayai keluarga," kilah S.

Sebelum tertangkap, dia mengaku pernah menjalani kawin kontrak selama satu minggu dengan pria Timur Tengah. Dari hasil perkawinan tersebut, Susi memperoleh bayaran Rp 7 juta. Namun, dari bayaran sebesar itu, Susi hanya dapat setengahnya.

"Setengahnya lagi dipotong oleh perantara," kata wanita yang mengontrak rumah di Kampung Ciburial, Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, ini.

Uang hasil kawin sesaat itu dia pergunakan untuk membiayai kebutuhan keluarga. S memiliki orangtua yang tidak berpenghasilan tetap dan beberapa adik yang masih bersekolah.

Kisah pilu lainnya dikemukakan F (18). Gadis asal Cijantung, Jakarta Timur, ini mengaku nekat melakukan kawin kontrak dengan pria dari Timur Tengah karena harus menghidupi orangtua dan adiknya yang masih SMP. Dia mengaku sudah melakukan kawin kontrak sebanyak 11 kali.

Selama kawin kontrak, katanya, dia diberi nafkah Rp 5 juta selama seminggu oleh suami kontraknya. Jika dikontrak selama sebulan, maka F bisa mendapatkan pemasukan hingga Rp 20 juta. "Tapi, uangnya tidak utuh saya terima. Yang 30 persen dipotong buat Mami," katanya.

Menurut pengakuan F, semua kegiatan kawin kontrak dilakukan melalui ijab kabul. Sulung dari tiga bersaudara ini mengaku terpaksa melakukan itu karena tuntutan hidup.

F mengatakan, dia rela meninggalkan bangku SMP demi mencari uang. "Biarlah saya seperti ini, tapi adik-adik saya harus menjadi orang. Dua adik saya harus menjadi sarjana dan bekerja yang layak," kata F sambil menitikkan air mata.

Kepada petugas, F mengatakan bahwa wanita mana yang bisa secara sukarela bekerja seperti ini. "Kalau orangtua saya mampu, tak sudi saya melakukan ini," ujar F.

Perkenalannya dengan pria Arab dilakukan melalui pembantu sang turis yang dia kenal sebelumnya. "Selama delapan bulan, saya menjalani profesi ini. Sudah 11 laki-laki Arab saya nikahi. Usia kawin kontrak saya dengan mereka paling pendek tiga minggu dan paling lama satu bulan," ujarnya.

Lain halnya dengan Ima (32) yang juga ikut terjaring razia. Saat ditanya, Ima membantah telah melakukan kawin kontrak. Warga Jakarta Timur itu mengatakan, dia berada di villa T karena berprofesi sebagai agency.

"Saya ini agency yang selalu mengantar tamu asal Timur Tengah ke Puncak. Mereka kalau mau datang ke Indonesia selalu telepon saya. Jadi, tugas saya sebatas menyediakan tempat penginapan. Tentang ada wanita lalu dilakukan kawin kontrak, saya tidak tahu," kata janda beranak satu itu.

Camat Cisarua Teddy Pembang mengatakan, semua wanita yang terjaring langsung didata, lalu diberi bimbingan rohani. Mereka juga diminta untuk membuat surat pernyataan tidak akan kembali lagi menghuni kawasan Puncak untuk menjajakan diri dan melakukan kawin kontrak.

"Saya sangat terpukul melihat kenyataan ini. Mereka itu bukan asli warga saya, melainkan dari luar Kecamatan Cisarua. Makanya, kalau mengulangi perbuatannya dan tertangkap, mereka akan saya kirim ke panti sosial," kata Teddy.

Musim kawin kontrak

Seperti tahun-tahun sebelumnya, bulan Mei dan Juni ini merupakan musim kawin kontrak karena para turis asal Timur Tengah, terutama dari Arab Saudi, Irak, dan Iran, berlibur ke kawasan Puncak, Jawa Barat. Mereka biasanya menghabiskan waktu liburan di kawasan tersebut hingga tiga bulan ke depan.

Selama musim liburan itu, para turis tersebut tinggal di sejumlah hotel dan wisma di daerah Tugu Selatan dan Tugu Utara, Kecamatan Cisarua. Karena terjadi setiap tahun, warga setempat kerap menyebutnya sebagai "musim Arab".

"Mereka selama ini tinggal di daerah Warung Kaleng, Tugu Utara. Di sini juga terdapat wilayah yang dinamakan perkampungan Arab," kata seorang warga Kampung Sampai, Tugu Utara.

Selain berwisata menikmati keindahan Puncak atau berbelanja, tidak sedikit turis asing yang berperilaku nakal selama berlibur di kawasan Puncak. "Sebagiannya sering 'jajan' atau memesan perempuan. Sebagian lagi ada saja yang melakukan kawin kontrak dengan warga sekitar, dengan biaya antara Rp 5 juta dan Rp 10 juta. Itu baru mahar, belum kebutuhan sehari-hari lainnya yang pasti dicukupi oleh si turis itu," ujar warga lainnya. (wid)


Editor : Hertanto Soebijoto
Sumber: