Senin, 21 April 2014

News /

10 Pasar Tradisional Direvitalisasi

Minggu, 3 Juli 2011 | 03:38 WIB

Baca juga

Maumere, Kompas - Kementerian Perdagangan merevitalisasi 10 pasar tradisional menjadi pasar percontohan pada 2011. Selain melakukan perbaikan fisik, kementerian itu juga akan melakukan pendampingan terhadap pedagang dan pengelola pasar selama tiga tahun berturut-turut hingga tahun 2013.

Hal itu dikatakan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Sabtu (2/07), saat meninjau Pasar Kewapante, sekitar 10 kilometer arah timur kota Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Pasar Kewapante merupakan satu dari 10 pasar tradisional yang akan direvitalisasi.

Kesembilan pasar lainnya adalah Pasar Pangururan di Samosir (Sumatera Utara), Pasar Lambocca di Bantaeng dan Pasar Pattalassang di Takalar (Sulawesi Selatan), Pasar Grabag di Purworejo dan Pasar Cokro Kembang di Klaten (Jawa Tengah), Pasar Minulyo di Pacitan (Jawa Timur), Pasar Agung di Denpasar (Bali), Pasar Panorama (Bengkulu), dan Pasar Skow di Jayapura (Papua).

Mari mengatakan, pasar memiliki fungsi yang strategis, tetapi masih belum berhasil keluar dari permasalahan yang membelenggunya. Karena itu, dalam mencanangkan program pasar percontohan, Kementerian Perdagangan tidak hanya akan memperbaiki kondisi fisik pasar, tetapi juga mendampingi pedagang dan pengelola untuk dapat mengelola usaha dan pasar dengan baik.

”Supaya Pasar Kewapante ini menjadi pasar yang baik, bersih, dan sehat, Kemendag di bawah program pasar percontohan akan mendampingi pedagang dan pengelola pasar selama tiga tahun hingga tahun 2013. Untuk itu, dukungan terhadap program ini serta komitmen untuk kerja keras diperlukan dari semua pihak terkait agar pasar percontohan dapat berhasil,” kata Mendag.

Langkah revitalisasi

Revitalisasi 10 pasar tradisional itu meliputi perencanaan tata letak bangunan pasar mengacu pada pola tata bangunan, perencanaan sirkulasi pejalan kaki, akses, dan jalur dalam tapak, perencanaan sirkulasi dan area parkir kendaraan bermotor, pengaturan sirkulasi sampah, dan tempat pembuangan sampah dalam tapak pada area yang jauh dari lokasi dagang pasar. ”Dilakukan pula penghijauan dan area terbuka hijau yang bisa dimanfaatkan sebagai area menampung padang temporer, lalu pembangunan kios sesuai kebutuhan pedagang, pembuatan sistem saluran air dan pengolahan sampah,” kata Mari Pangestu.

Pasar Kewapante berdiri tahun 1974 di lahan seluas 2,5 hektar dengan luas bangunan sekitar 3273,82 meter persegi, serta menampung sekitar 800 pedagang. Pasar tersebut dikelola 20 orang.

Data Kementerian Perdagangan menyebutkan, Pasar Kewapante masih membutuhkan banyak perbaikan. Saat ini kondisi pasar itu sudah tidak layak dan tidak sesuai dengan rencana tata ruang Kabupaten Sikka.

Selain melakukan peninjauan dan dialog ke pasar percontohan Kewapante, Mendag juga meninjau Pasar Alok di kota Maumere, bakti sosial, mengunjungi sentra tenun ikat dan industri pemintalan di Desa Nita, sekaligus menyerahkan alat tenun bukan mesin (ATMB) kepada perajin di Sikka. (*/AST/JAN)


Editor :