K25-11
Ilustrasi
TEGAL, KOMPAS.com - Harga beras dan sejumlah bahan pangan lainnya di wilayah Kota Tegal, Jawa Tengah mulai stabil. Meskipun demikian, harga tersebut masih tinggi, karena belum kembali ke harga sebelumnya. Saat ini, harga eceran beras C4 super sekitar Rp 8.000 hingga Rp 9. 000 per kilogram, sedangkan harga beras C4 standar sekitar Rp 7.000 hingga Rp 7.500 per kilogram.
Mahrudi (33), pedagang beras di Pasar Induk Beras Martoloyo, Minggu (17/7/2011) mengatakan, sepekan terakhir, harga beras stabil. Hal itu karena permintaan beras dari luar daerah, seperti Jakarta turun. Diperkirakan, hal itu sebagai dampak operasi pasar (OP) beras yang mulai dilaksanakan di Jakarta.
Saat ini, harga beras C4 kualitas super dari rice mill atau penggilingan padi sekitar Rp 6.600 per kilogram, sedangkan harga beras di pasar induk sekitar Rp 7.000 per kilogram. Meskipun mulai stabil, harga tersebut masih tinggi, karena belum bisa kembali ke harga sebelumnya. Dua pekan lalu, harga beras di tingkat penggilingan padi masih Rp 6.000 per kilogram.
Sementara itu, harga eceran beras C4 super pada sejumlah warung sembako dan toko kelontong masih sekitar Rp 8.000 hingga Rp 9.000 per kilogram. Susanti (34), pedagang sembako di Jalan Tentara Pelajar Kota Tegal mengaku menjual beras C4 super Rp 8.500 per kilogram .
Sementara Sri (40), pedagang kelontong di wilayah Kelurahan Pesurungan Kidul, Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal menjual beras C4 super dalam kemasan lima kilogram Rp 45.000, atau setara dengan Rp 9.000 per kilogram. Beras C4 curah berkisar Rp 7.000 hingga Rp 7.500 per kilogram.
Harga Telur
Selain beras, harga harga telur juga masih tinggi. Saat ini, harga eceran telur berkisar antara Rp 16.000 hingga Rp 16.500 per kilogram. Menurut Sri, harga telur cenderung turun, dari sebelumnya Rp 16.500 hingga Rp 17.000 per kilogram.
Meskipun demikian ia memperkirakan, penurunan harga tersebut bersifat sementara. Pada awal puasa, harga telur dan bahan pangan lain akan kembali naik, seiring dengan meningkatnya kebutuhan di masyarakat.
Tingginya harga sejumlah bahan pangan mengakibatkan perubahan pola konsumsi pada masyarakat. Rodiatun (40), warga Kelurahan Bandung, Kecamatan Tegal Selatan, Kota Tegal mengaku tidak lagi mengonsumsi telur dalam sepekan terakhir.
Ia terpaksa mengganti lauk dengan tempe atau tahu, agar penghasilan suaminya sebagai buruh bangunan cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga dengan empat anak. "Sekarang lauk seadanya saja, karena untuk beli beras saja mahal," ujarnya.
