Sabtu, 25 Mei 2013
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 25 Mei 2013 | 06:27 WIB
PETERNAKAN
Imbas Harga Beras Naik
Senin, 18 Juli 2011 | 02:49 WIB
|
Share:

Industri peternakan paling terpukul dengan situasi perberasan nasional saat ini. Harga beras yang tinggi memengaruhi kenaikan harga komoditas lain dan mendorong kenaikan harga bahan baku pakan, seperti jagung dan katul.

Saat harga beras naik, harga katul, yang merupakan hasil samping dari penggilingan padi, ikut naik. Soalnya, kenaikan harga beras pasti mendorong harga gabah. Dengan produksi padi tahun ini 66 juta ton gabah kering giling (GKG), dihasilkan 9,9 juta ton katul dengan asumsi tiap 100 kilogram (kg) GKG menghasilkan 15 persen katul.

Produksi katul itu dimanfaatkan untuk bahan baku pakan. Sekitar 1,5 juta ton untuk ternak unggas lokal, seperti ayam kampung, itik, dan entok. Binatang peliharaan, seperti sapi, kuda, kelinci, ikan, dan hampir semua jenis ternak, menggunakan katul sebagai salah satu komponen utama bahan baku pakannya.

Karena itu, setiap kali ada kenaikan harga beras yang diikuti naiknya harga katul, biaya pokok produksi ternak juga naik. Meski begitu, kenaikan harga katul sebagai komponen harga pakan tidak akan langsung memengaruhi harga produk ternak.

Menurut Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi), bila harga beras naik Rp 1.000 per kg menjadi Rp 6.000, harga katul naik sekitar Rp 500 per kg menjadi Rp 2.000.

Dari perhitungan sederhana peternak unggas, untuk tiap kenaikan Rp 500 harga katul dan Rp 1.000 harga jagung, memengaruhi biaya produksi per butir telur Rp 200-Rp 300. Soalnya, katul dan jagung menyumbang sekitar 75 persen dari komponen bahan baku pakan.

Sangat membebani peternak. Makin sulit lagi bila belum ada sumber bahan baku pakan alternatif. Peternak dan industri pakan ternak sejauh ini berminat pada katul dengan kandungan energi sekitar 2.500 kkal/kg dan protein 12 persen dan jagung 3.350 kkal/kg dan 8,9 persen protein.

Rumitnya, harga jagung biasanya ikutan naik jika harga beras naik. Tahun 2006, harga beras naik sekitar Rp 3.500, harga jagung naik sekitar Rp 1.000. Begitu harga beras naik menjadi Rp 6.000, harga jagung menjadi Rp 3.400.

Kalau katul yang hanya dipengaruhi satu faktor, yakni harga beras, maka kenaikan harga jagung sangat dipengaruhi harga jagung di pasar dunia yang sangat dipengaruhi harga minyak mentah. Makanya, harga jagung dalam negeri relatif sulit turun.

Ironisnya, naiknya harga pakan ternak tidak selalu berbanding lurus dengan kenaikan harga pakan. Bisa terjadi dalam suatu masa harga ternak dan produk ternak tidak naik, namun harga pakan naik tinggi. Seperti yang menimpa unggas tujuh bulan belakangan ini.

Dalam kondisi seperti sekarang, kenaikan harga pakan bagaimanapun menjepit peternak. Deindustrialisasi industri peternakan bakal terjadi bila situasi sulit ini terus berlangsung. Kecuali bila pemerintah bisa mengatrol harga produk ternak atau mengendalikan harga bahan baku pakan. Bila itu sulit dilakukan, stabilisasi harga beras menjadi hal penting. (HERMAS E PRABOWO)

 

Editor :