Sabtu, 20 Desember 2014

News / Megapolitan

Sumber Daya Alam di Jakarta Memprihatinkan

Rabu, 7 September 2011 | 23:49 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Sebelum adanya kejadian krisis air bersih karena runtuhnya pintu air Buaran, Kalimalang, Jakarta memang sudah termasuk daerah yang rawan krisis air bersih. Dari 18 kubik per detik pasokan air yang ada di Jakarta, hanya 400 liter per detik yang dipasok dari wilayah Jakarta, atau sekitar 2 persen dari pasokan air bersih Jakarta ada di Cilandak. Sisanya mengandalkan dari luar Jakarta. Hal ini diungkapkan oleh Direktur Utama PDAM DKI Jakarta, Maurits Napitupulu.

"Jakarta memang memprihatinkan, sumber daya alam terbatas, kita ada di ujung sehingga tidak memiliki cadangan air baku sendiri. 98 persen diambil dari luar Jakarta, 15 persen dari Tangerang, 83 persen dari air Jatiluhur yang mengalir di Tarum Barat sebagai air baku untuk instalasi penjernihan air di Buaran, Pulogadung, dan Pejompongan," jelasnya di Jakarta, Rabu (7/9/2011).

Lebih lanjut, Maurits mengatakan, harus ada perhatian lebih untuk menjaga urat nadi kebutuhan air bersih warga Jakarta. "Kita bekerja sama secara intens dengan Balai Besar wilayah Sungai Citarum, bagaimana menjamin pasukan air bersih Citarum yang mengalir dari Waduk Jatiluhur ke Tarum Barat bagus, maka dari itu perlu perhatian lebih," katanya.

Maurits juga mengatakan, pada 2015 nanti, kebutuhan air bersih warga Jakarta akan meningkat di angka 26 kubik per detik atau 80 persen dari kebutuhan warga yang terlayani air bersih.

"Sesuai dengan sasaran MDGs yang mengharuskan 80 persen warga mendapatkan layanan air bersih, maka kami sedang mempersiapkan untuk pembangunan empat titik pengelolahan air bersih," katanya.

Untuk memenuhi target tersebut, tambah Maurits, saat ini wilayah Jakarta masih kekurangan 8 kubik per detik air bersih. "Dari 4 titik pengelolahan air bersih akan memproduksi 4 kubik per detik, sisanya pipanisasi dari Curug," pungkasnya.


Editor : Aloysius Gonsaga Angi Ebo