Jumat, 24 Mei 2013
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 24 Mei 2013 | 23:03 WIB
Kasus Pengeroyokan
Lewat Pintu Belakang, Siswa SMAN 6 Tiba di Polrestro
Penulis : Sabrina Asril | Rabu, 21 September 2011 | 15:37 WIB
|
Share:
Lewat Pintu Belakang, Siswa SMAN 6 Tiba di Polrestro KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES Siswa SMAN 6 dihalangi polisi dan sejumlah guru saat berhadapan dengan sejumlah wartawan di depan SMAN 6, Bulungan , Jakarta Selatan, Senin (19/9/2011). Kejadian ini bermula saat sejumlah wartawan dari media cetak maupun elektronik melakukan aksi demonstrasi berkaitan dengan kasus perampasan kamera video salah satu wartawan Trans 7. Namun situasi semakin memanas sehingga bentrokan tidak bisa dihindarkan.

JAKARTA, KOMPAS.com - Sepuluh orang siswa SMAN 6 Jakarta Selatan tiba di Polrestro Jakarta Selatan sekitar pukul 13.00 WIB dengan tidak menggunakan seragam. Kedatangan para siswa ini untuk menjadi saksi dalam peristiwa kericuhan pada Senin (19/9/2011) siang lalu di SMAN 6 Jakarta.

Kedatangan para siswa tersebut tidak tercium media massa lantaran menggunakan pintu belakang menuju ke ruang penyidik. Mereka juga didampingi sembilan orang dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Kehadiran para siswa ini dibenarkan Kasubag Humas Polres Jakarta Selatan, Ajun Komisaris Aswin, Rabu (21/9/2011) di Polrestro Jakarta Selatan.

"Iya, benar, mereka sudah datang dan sekarang sudah di atas lewat pintu belakang," ujar Aswin.

Sebelumnya, aparat kepolisian Polrestro Jakarta Selatan juga sudah mewanti-wanti para wartawan untuk tidak mengambil gambar muka para siswa. "Dimohon untuk tidak mengambil gambar muka mereka yah teman-teman semuanya, karena mereka masih siswa," kata Aswin kepada puluhan wartawan.

Imbauan itu pun kemudian disetujui para wartawan. Namun, Aswin mengatakan, wartawan juga dilarang mengambil gambar para siswa meskipun dari belakang. Sontak, beberapa kameramen dan fotografer yang memerlukan gambar untuk kepentingan pemberitaan pun sempat mengeluh.

"Kenapa dari belakang juga tidak boleh, Pak? Kalau gitu, mereka saja yang menutup mukanya sendiri? Atau polisi kasih penutup muka? Kalau nggak bisa, bukti gambar kami apa?" tanya para wartawan.

Namun, polisi pun tak bisa menjelaskan. "Dimohon yah, karena kalau disorot mereka bisa protes ke polisi," kata Aswin.

Seperti diberitakan, bentrokan antara wartawan dan siswa SMAN 6 Jakarta terjadi pada Jumat (16/9/2011). Semula wartawan sedang menggelar aksi damai di depan SMAN 6 Jakarta akibat adanya peristiwa pengeroyokan terhadap wartawan Trans7, Oktaviardi saat meliput aksi tawuran antara SMAN 6 dengan SMAN 70 pada Jumat (16/9/2011) malam.

Namun, tiba-tiba kemarahan di antara keduanya pecah lantaran terprovokasi. Tidak jelas dari mana provokasi ini berasal. Ratusan siswa SMAN 6 kemudian berhamburan keluar halaman sekolah mengejar para jurnalis. Polisi sempat kewalahan melerai aksi massa yang kian beringas. Tembakan peringatan kepolisian pun akhirnya dikeluarkan.

Editor :
Hertanto Soebijoto