KOMPAS/LASTI KURNIA
Pekerja Rohim Konveksi di kawasan Kemandoran, Jakarta, Kamis (7/1/2012), menyelesaikan busana anak khas Tionghoa untuk menyambut Imlek. Produk yang kualitasnya tak kalah dengan produk impor dari China itu dibuat untuk memenuhi pesanan dari berbagai daerah.
JAKARTA, KOMPAS.com - Sore itu, Baba (32) sedang membersihkan satu per satu papan tripleks dengan kuas berminyak tanah di bengkel sablon miliknya di lingkungan RT 06 RW 04 Jembatan Besi, Tambora, Jakarta Barat. Ada 20 pekerja yang bergantung hidup kepada Baba. ”Setiap hari, kami bisa menyablon 200 pakaian,” tuturnya di sela kerjanya, awal Januari lalu.
Bengkelnya kecil dan sederhana. Lantai dasar digunakan menyimpan dan mencuci peralatan sablon, sedangkan lantai dua yang berlantai kayu digunakan sebagai ruang menyablon.
Tiga rumah dari sana, Wandi (21) tampak sedang melipat pakaian-pakaian remaja putri di sebuah rumah konveksi. Ia memimpin 11 penjahit dan pengobras yang bekerja di lantai dua serta enam pengemas pakaian yang bekerja di lantai dasar.
Salah seorang penjahit, Tohir (27), mengaku setiap hari menerima upah Rp 80.000 setelah bekerja pukul 08.00-22.00.
”Kalau model pakaiannya sederhana, sehari saya bisa menjahit 50 kodi. Tetapi, kalau modelnya rumit seperti ini, saya cuma mampu menyelesaikan 25 kodi,” katanya sambil terus menjahit.
Menurut Camat Tambora Isnawa Aji yang dihubungi terpisah, jumlah usaha konveksi rumahan di Tambora sekarang mencapai ratusan unit. ”Dari 11 kelurahan, cuma Kelurahan Roa Malaka dan Pekojan yang tidak diwarnai kegiatan konveksi,” ucapnya.
Padat penduduk
Tahun 1970-an, lingkungan RW 04, terutama RT 06, masih dikenal sebagai kawasan kumuh sepi penghuni dan paling rawan di Jakarta Barat. Namun, menjelang pertengahan 1980, Kecamatan Tambora mulai tumbuh menjadi kawasan usaha konveksi rumahan.
”Para pemodalnya datang dari Kalimantan Barat, antara lain dari Pontianak, Singkawang, dan Sambas,” kata Harun.
Menurut salah seorang pengusaha, Yupiter (38), Senin (9/1/2012), pesatnya perkembangan usaha konveksi rumahan ini menyerap semua tenaga kerja di sekitarnya. Karena kekurangan tenaga kerja, para pengusaha kemudian menyerap tenaga kerja kaum urban. Jumlah mereka dibandingkan dengan jumlah penduduk setempat terus bertambah.
Menurut Isnawa, jumlah warga yang tercatat tahun ini mencapai 213.677 jiwa dengan tingkat kepadatan 39.496,67 jiwa per kilometer persegi. ”Lebih dari separuh penghuni adalah pendatang,” ujarnya.
Tambora kini telah berubah menjadi sentra produksi pakaian berbahan kaus terbesar di Indonesia. ”Produk kami tidak hanya membanjiri pasar pakaian di Tanah Abang, Mangga Dua, Cipulir, dan Jatinegara, tetapi juga merajai pasar-pasar pakaian di seluruh Indonesia,” kata Yupiter bangga.
Karena usaha terus berkembang, sementara lahan tak bertambah, rumah-rumah berlantai dua ke atas bertambah banyak, berimpit satu dengan yang lain. Kabel-kabel listrik pun centang-perenang, melintas, berbelit-belit.
Keadaan ini sering menimbulkan hubungan pendek arus listrik yang memicu kebakaran. Kebakaran rata-rata terjadi satu sampai dua kali dalam sebulan. Meski demikian, para pengusaha enggan direlokasi ke kawasan industri kecil di Penggilingan, Jakarta Timur.
Padahal, langkah relokasi tersebut sudah sesuai dengan perintah Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Tata Ruang. Menurut UU tersebut, setiap pembangunan tempat usaha harus menyesuaikan dengan izin domisili. Jika tidak sesuai dengan peruntukan, tempat usaha mereka harus dibongkar.
Yupiter khawatir relokasi usaha bakal membuat usaha ini bangkrut. Masalahnya, kata Isnawa, adanya UU No 26/2007 ini membuat Pemerintah Provinsi DKI tidak bisa menarik retribusi dari usaha konfeksi terbesar di Tanah Air tersebut. Sebab, menarik retribusi berarti melegalkan keberadaan usaha konfeksi di Tambora yang kini tak sesuai lagi dengan ketentuan UU tersebut.
Jalan keluarnya? Pemerintah Provinsi DKI mengubah peruntukan, memperbaiki dan menertibkan lingkungan sehingga tidak lagi menjadi kawasan kumuh rawan kebakaran, serta membangun blok-blok rumah susun khusus untuk usaha konveksi rumahan yang layak huni.
Pilihan lain, melakukan relokasi dengan rencana matang dan waktu yang cukup sehingga tidak membuat bisnis ini gulung tikar. Mengorbankan usaha konveksi rumahan ini sama dengan mengundang impor produk serupa dari China. Dan, itu berarti menambah penganggur di Jakarta. (WINDORO ADI)

