Jumat, 25 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 25 Mei 2012 | 04:50 WIB
Kriminalitas
Pembina Ditipu, 33 Orang Hampir Gagal Umrah
| Hertanto Soebijoto | Kamis, 9 Februari 2012 | 10:24 WIB
|
Share:
KOMPAS/TJAHJA GUNAWAN DIREDJA Jemaah haji sedang lempar jumroh di Mina, Arab Saudi, Senin (7/11/2011)

BOGOR, KOMPAS.com - Satu per satu anggota jemaah yang hendak berangkat umrah mendatangi rumah Agus Salim di Bogor Timur, Kota Bogor, Jawa Barat, Selasa (7/2/2012) malam. Selepas tengah malam, rencananya mereka bertolak menuju Tanah Suci. Namun, mereka begitu terkejut ketika tiket pesawat dan visa tak ada.

Agus yang juga pembina Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Ibnu Aqil lebih terkejut lagi. Selama 30 tahun mengurus pemberangkatan ibadah haji, ia tak pernah mengalami persoalan semacam itu. YS (50-an), rekanan Agus yang seharusnya menyiapkan tiket pesawat Jakarta-Jeddah pergi-pulang, mengurus visa, serta memesan hotel dan makan ternyata bermasalah.

”Padahal, uang sudah dibayarkan kepada dia semua, tapi malah diundur beberapa kali. Karena jemaah sudah datang, harus tetap berangkat,” tutur Mia Hamidiyah (25), putri Agus, saat melaporkan kasus dugaan penipuan yang melibatkan YS ke Polres Bogor Kota, Rabu.

Mia mewakili ayah dan kakaknya yang sudah berangkat Rabu siang ke Jeddah mendampingi 33 anggota jemaah yang akan umrah. Ayahnya terpaksa mencari pinjaman untuk membeli tiket bagi 33 anggota jemaah agar mereka tetap bisa berangkat. Total kerugian akibat kejadian itu sekitar Rp 1 miliar.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Bogor Kota Ajun Komisaris Iman Imanuddin mengaku pihaknya masih mendalami kejadian itu. Ia menyatakan akan menindaklanjuti laporan tersebut. Pelaku akan dijerat dengan Pasal 378 KUHP dengan ancaman penjara maksimal lima tahun. ”Kami akan memberi atensi atas laporan tersebut,” kata Iman.

Menurut Mia, kejadian itu bermula saat YS yang sudah lama dikenal ayahnya menawarkan untuk mencari peserta program umrah. Setiap peserta ditarik bayaran Rp 15 juta untuk keberangkatan pada 4 Februari. Dari setiap 10 peserta umrah, satu orang akan digratiskan. Tawaran itu disanggupi Agus dan akhirnya ada 33 orang yang mendaftar. Ia lalu membayar Rp 450 juta dalam beberapa tahap pembayaran kepada YS.

Namun, beberapa hari sebelum pemberangkatan, YS mendatangi Agus Salim, mengaku visa jemaah belum selesai. Dia minta persetujuan agar pemberangkatan itu ditunda tanggal 7 Februari. Namun, dua hari sebelum pemberangkatan, YS kembali mendatangi Agus dan meminta penundaan tanggal 8 Februari pukul 01.00. YS meminta jemaah sudah datang tanggal 7 Februari malam.

Setelah jemaah berdatangan ke rumah Agus, YS kembali datang dan meminta keberangkatan diundur lagi tanggal 11 Februari dengan alasan visa belum selesai. Agus tidak terima karena jemaah sudah berdatangan. Apalagi, setiap anggota jemaah diantar tetangganya hingga menggunakan beberapa mobil.

”Setelah didesak, YS mengaku visa belum selesai, tetapi waktu kami periksa ke biro perjalanan, katanya sudah selesai dan belum diambil karena YS belum bayar Rp 30 juta,” ujarnya.

Tiket pesawat pun belum dipesan YS. Namun, kata Mia, ia tidak mau mengatakan uang Rp 450 juta yang sudah disetor itu digunakan untuk apa. Akhirnya, Agus memesan tiket untuk 33 anggota jemaah dengan total biaya Rp 550 juta. ”Untuk bayar tiket itu sampai harus menangis pinjam kepada besan,” tutur Mia.

Ia juga tidak tahu bagaimana ayahnya harus mengangsur utang itu. Hal ini dilakukan untuk menjaga kepercayaan yang sudah dibangun selama 30 tahun. (Antony Lee)

 

Sumber :
Kompas Cetak