KOMPAS/NELI TRIANA
Kabid Humas Polda Metro Kombes Rikwanto didampingi Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Imam Sugiyanto saat jumpa pers kasus kakak bunuh adik kandung di Mapolres Jaksel, Kamis (9/2/2012) siang tadi.
JAKARTA, KOMPAS.com — Reffi Naldo (13) tidak menunjukkan gelagat yang aneh menjelang ajalnya. "Dia seperti biasa saja. Main, nonton bola, sama teman-temannya sibuk ngurus burung dara. Seperti itu kesehariannya," kata Nurdin (30), paman Reffi, saat ditemui di rumah keluarga di Jalan H Jian RT 007 RW 04, Cipete Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, sekitar pukul 15.30 tadi.
Namun, ada satu hal yang tiba-tiba membuat Nurdin trenyuh. "Jumat (3/2/2012) lalu, saya datang ke sini setelah Jumatan. Saya sengaja tawari dia untuk ziarah ke makam ayah dan kakak saya atau kakek Reffi dan ibu Reffi. Biasanya dia tak mau kalau diajak ke makam. Tapi hari itu dia langsung mau. Sampai di makam, dia sibuk bersihin rumput di makam kakek dan ibunya," kata Nurdin.
Setelah datang pada Jumat pekan lalu itu, Nurdin sebenarnya baru berencana bertandang lagi ke rumah ibunya di Jalan H Jian itu pada Kamis, hari ini. Akan tetapi, laki-laki yang bermukim di Cibubur, Jakarta Timur, itu mengatakan mertuanya panen jagung, Selasa (7/2) lalu. Ia pun berinisiatif mengajak Reffi berjualan jagung.
Saat Nurdin datang sekitar tengah hari, Selasa lalu, dia mendapati Reffi di tempat tidur kamarnya yang berada di lantai dua. "Saya panggil dia. 'Pong...Pong...' sambil membalikkan badannya. Saya kaget, matanya memar dan banyak semut di mulut dan wajahnya," kata Nurdin.
Nurdin segera turun dan memanggil seorang tetua di kampung itu. Bersama tetangganya, akhirnya Nurdin memastikan Reffi telah meninggal. "Saya kira penyebabnya angin duduk atau kecapekan atau apalah yang lain. Sama sekali tidak menyangka kalau dibunuh apalagi sama kakak kandungnya sendiri," kata Nurdin.
