Jumat, 25 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 25 Mei 2012 | 05:09 WIB
Kakak Bunuh Adik
VN dan Reffi Sebenarnya Jarang Bertengkar
Neli Triana | Marcus Suprihadi | Kamis, 9 Februari 2012 | 19:45 WIB
|
Share:
KOMPAS/NELI TRIANA VN (20), tertutup kain hitam, dipeluk oleh polwan di Kepolisian Resor Metro Jakarta Selatan, Kamis (9/2/2012). VN adalah pembunuh Reffi, adik kandungnya sendiri.

JAKARTA, KOMPAS.com- Hajjah Asih (65) didampingi anaknya Nurdin (30) duduk di ruang tamu rumahnya di Jalan H Jian RT 007/RW 04, Cipete Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Mata mereka masih memerah dan sesekali terlihat upaya keras agar air mata tak jatuh lagi. "Kami masih harus siapin rumah untuk acara tahlilan Reffi," kata Asih.

Kasih sayang Asih terhadap Reffi Naldo (13) dan juga kakaknya VN (20) yang kini mendekam di tahanan Polres Jakarta Selatan karena disangka membunuh Reffi tak pernah pupus, meskipun Reffi dan VN sebenarnya cucu tiri Asih.

"Dulu ibu dari Sumiyati, ibu Reffi dan VN, meninggal. Ayah Sumiyati, yang juga ayah saya, kemudian menikahi ibu (hajjah Asih). Sumiyati, kakak saya itu, pun diasuh ibu. Saat sakit tumor di perut yang akhirnya membuat Sumiyati meninggal, ibu juga yang merawat dan membiayai," kata Nurdin.

Ayah Reffi dan VN, setelah Sumiyati meninggal, menikah lagi dan tinggal terpisah di Cipulir. "Bapaknya Reffi, Agus Effendi, sopir angkot. Tidak rutin bertemu, tetapi terkadang Reffi mencegat dia di jalan kalau kangen," kata Asih.

Reffi tumbuh layaknya anak laki-laki lainnya. Dia suka main di luar dan banyak temannya. Ia sangat hobi main maupun nonton sepak bola secara langsung seperti pertandingan klub kesayangannya Persija maupun pertandingan di televisi.

Biar tidak rebutan, Asih menyediakan masing-masing kamar tersendiri bagi Reffi dan VN, lengkap dengan televisi. Kesenangan Reffi tentu berbeda dengan VN. Selain perempuan, VN juga lebih tua.

Sayang saat dinyatakan tidak naik kelas saat kelas lima SD, Reffi tidak mau lagi melanjutkan sekolah. "Sudah saya dorong-dorong biar sekolah lagi. Nanti, kalau ijab kabul, gimana kamu mau baca janji nikahnya. Kalau saya nanti tidak ada lagi, terus kamu tidak sekolah, bagaimana nasib kamu nanti. Begitu sering saya omong sama dia. Cuma dia selalu berkeras. Tapi dia juga bukan anak nakal. Kalau pun sering ngambek, wajar bagi anak seusia dia," kata Asih.

Nurdin menambahkan, terkadang ia menasihati Reffi untuk tidak keluar malam pakai sepeda motor. "Dia langsung banting kunci motor dan lari ke kamarnya. Kadang kesel. Cuma mungkin perilaku itu juga karena ia yatim sejak kecil. Jadi yang ada cuma rasa sayang dan kasihan," tambahnya.

Sementara VN, sudah setahun terakhir bekerja sebagai pegawai sebuah pusat spa dan refleksi di kawasan Cipete. "Dia sekolah tidak lulus SMA juga dan sudah lama bekerja. Sebelum di spa itu, dia juga pernah kerja di Antasari. Kalau pulang pergi kerja pakai sepeda motor," kata Nurdin.

Sepengatuhan Asih dan Nurdin, VN jarang bertengkar dengan Reffi. Kadang-kadang VN memang kesal ketika Reffi meminjam sepeda motornya tanpa bilang terlebih dulu. Untuk itu, Asih dan Nurdin amat kaget ketika polisi menetapkan VN sebagai tersangka tunggal pembunuh Reffi.