Sabrina Asril
Kepolisian Daerah Metro Jaya menggelar hasil operasi Berantas Jaya yang menitikberatkan pada pemberantasan aksi kejahatan di jalanan.
JAKARTA, KOMPAS.com — Tren kejahatan menggunakan senjata api mulai marak terjadi di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Sekitar 20 pucuk senjata api berhasil diamankan aparat kepolisian dalam operasi Berantas Jaya 2012. Polisi kini masih menelusuri asal senjata api tersebut.
"Senjata api yang kami sita dari pelaku kejahatan ada 20 pucuk dalam Operasi Berantas Jaya," ungkap Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto, Rabu (15/2/2012), di Mapolda Metro Jaya.
Operasi Berantas yang digelar Polda Metro Jaya ini menitikberatkan pada penekanan kejahatan jalanan. Operasi ini dimulai sejak tanggal 4 Januari lalu. Hingga kini, polisi menyita 20 pucuk senjata yang terdiri dari 9 senpi rakitan, satu senpi organik, dan 10 air softgun serta mainan.
Direktur Reserse Kriminal Umum Komisaris Besar Toni Harmanto mengakui adanya tren penggunaan senjata api untuk kejahatan. Dari hasil penangkapan, 80 persen senjata yang digunakan adalah rakitan, sedangkan 20 persen adalah senjata pabrikan yang tidak terdaftar.
"Hingga kini kami belum menemukan adanya kasus senjata organik atau pabrikan yang dipakai pelaku kejahatan, kecuali yang terjadi di SPBU Condet. Banyak senpi rakitan yang dipakai oleh pelaku," ujarnya.
Sementara itu, untuk senjata pabrikan biasanya banyak beredar di pasar gelap. Sampai saat ini asal usul senjata itu masih belum diketahui. "Kami kesulitan mencari lokasinya, tetapi kami tetap melakukan penyidikan," ujarnya.
Selain senjata api, aparat kepolisian juga berhasil menyita senjata tajam 25 buah, sepeda motor 56 unit, miras 651 botol, dan ponsel hasil kejahatan 67 unit. Sebanyak 381 orang ditahan dalam operasi ini. Adapun kasus pencurian kendaraan bermotor tetap yang tertinggi, yakni 136 kasus. Selanjutnya disusul pencurian dengan pemberatan (curat) sebanyak 81 kasus, perampokan 22 kasus, dan penganiayaan berat 21 kasus.

