Kamis, 31 Juli 2014

News / Megapolitan

Kejahatan

Penipu Incar Pensiunan

Sabtu, 18 Februari 2012 | 19:06 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Upaya penipuan dengan sasaran pensiunan pegawai negeri sipil merebak. Penipu mengincar tabungan para pensiunan PNS dengan cara menguras saldo setelah mendapat nomor rekening dan PIN ATM-nya. Nomor rekenin dan PIN ATM didapat dengan dalih membayarkan deviden asuransi pensiun.

Jumat (17/2) lalu, sebut saja Ny Min (76), janda dari mantan pegawai sebuah BUMN, almarhum Soehartoyo, nyaris jadi korban penipuan.

"Waktu itu, ada telpon dari orang yang mengaku dari Badan Kepegawaian Negara (BKN) DKI Jakarta, mencari bapak (Soehartoyo), padahal suami saya, kan, sudah meninggal tahun 1994," ujar Min di rumahnya di Pejaten, Jakarta, Sabtu (18/2/2012).

Min melanjutkan, "Katanya, bapak akan dapat deviden asuransi pensiun dari PT Taspen, akan tetapi disuruh telpon ke BPK Pusat di Jalan Letjen Sutoyo, Cawang. Orang itu kasih nama dan nomor telpnnya."

Karena kebetulan ada menantunya, Ny Min meminta menantunya, Rudi, untuk menjawab telepon tersebut.

"Rudy kemudian diminta menghubungi Drs Pramono, Direktur Pensiunan PT Taspen dengan memberikan sebuah nomor telepon tertentu. Katanya, secara resmi, Direktur Pensiunan Taspen yang akan menyampaikan surat keputusan pemerintah kepada saya," tambah Ny Min.

Curigai direktur

Rudy kemudian mengontak Pramono, yang diterima lebih dulu oleh seorang stafnya.

"Awalnya saya sempat curiga karena aneh, kok direktur mau mengurusi soal itu, akan tetapi saya ikuti saja apa maunya," kata Rudi, yang menemani Ny Min di rumahnya.

Pramono kemudian menyampaikan isi surat keputusan tersebut.

"Almarhum kan peserta Taspen, yang tiap bulan dipotong gajinya. Setelah dikelola Taspen dan dinvestasikan di pasar modal dan perbankan, Pak Soehartoyo berhak dengan deviden asuransi pensiun sebesar Rp 50 juta dipotong 5 persen untuk administrasi Taspen. Jadi, Pak Soehartoyo akan menerima Rp 47,5 juta hari ini, tetapi hubungi Drs Soegiantoro, Kepala Bagian Verifikasi Taspen Pusat. Nanti dia yang akan jelaskan detil pengiriman uangnya," jelas Pramono seperti diceritakan Rudi.

Selanjutnya, Rudi yang penasaran menghubungi lagi Soegiantoro. Sementara, Ny Min yang ada di samping Rudi terus mengikuti proses tersebut.

Kecurigaan juga muncul di benak Rudi karena biasanya saat menjelang shalat Jumat, kantor pemerintah tidak melayani. Namun, ini tetap melayani meskipun lewat telepon.

"Saat meghubungi Soegiantoro, saya dipastikan akan mendapat pembayaran lewat transfer ke tiga bank yang bisa dipilih, yang dimiliki sendiri oleh ibu mertua saya. Nanti Senin, kalau sudah terima pembayaran, tolong bapak kirim bukti penerimaan deviden sambil membawa fotocopy bapak dan almarhum Pak Soehartoyo ya pak," tambah Soegiantoro.

Tiga bank itu adalah BRI, BCA, dan Bukopin. Pengiriman deviden katanya langsung lewat ATM, yang memvalidasi nomor yang akan diserahkan oleh Soegiantoro.

Ditanya saldo tabungan

Ny Min akhirnya memilih transfer ke BRI dan menyerahkan nomor rekeningnya. Curiga Kecurigaan Rudi mulai muncul saat Soegiantoro menanyakan saldo di buku tabungan Ny Min.

Alasannya untuk mengetahui adanya dana masuk yang ada di rekening Ny Min. Saat Rudi mendesak dan menanyakan untuk apa saldo tabungan, Soegiantoro malah marah.

"Bapak tidak pernah ya pakai ATM. Itu syaratnya," ujar Soegiantoro.

Rudi juga tak mau kalah menggertak Soegiantoro.

"Saya bisa tidak percaya nih Pak. Saya harus mengecek dulu, siapa yang jamin ini benar ada dana devidennya," ujar Rudi.

Tak lama Rudi mempertanyakan soal saldo, telepon akhirnya diputus dan Soegiantoro tak bisa dihubungi lagi.

Menurut seorang pensiunan guru lainnya, sebut saja Srisoemantri (86), yang tinggal di Kebayoran Baru, ternyata sekitar Januari lalu, juga nyaris tertipu dengan modus yang sama.

"Untungnya, anak saya juga mengingatkan kalau itu juga penipuan," ungkap Srisoemantri.

 


Penulis: Suhartono
Editor : Wisnu Nugroho