MARIA NATHALIA
Ratusan orang dari FBR dan Forkabi, warga Timor serta Flores dan kelompok Ternate mendatangi Markas Besar Polri di Gedung Barhakam Polri, Rabu (22/2/2012) sore. Mereka melakukan unjuk rasa dengan maksud meminta agar polisi memberikan hukuman mati pada John Kei yang selama ini dianggap sebagai preman yang keji.
JAKARTA, KOMPAS.com — Massa anti-John Kei yang dipimpin Bram Bani, ketua tokoh Indonesia Timur, pada Kamis (23/2/2012) siang ini mendatangi Polda Metro Jaya. Kedatangan massa ini terkait penangkapan John Kei yang terlibat kasus pembunuhan pengusaha peleburan baja, Tan Harry Tantono alias Ayung (45), beberapa waktu lalu.
"Kami datang ke Polda Metro diundang Kapolda. Kami juga sudah melakukan aksi unjuk rasa dan hari ini ke Polda untuk berikan dukungan moral ke polisi yang telah menangkap John Kei dan mengadili antek-antek John Kei," ungkap Bram, Kamis siang di Mapolda Metro Jaya.
Dalam pertemuan selama 30 menit itu, kata Bram, pihaknya meminta aparat kepolisian agar tidak ragu dan segera mengambil sikap terhadap kelompoknya. "Jangan ragu ambil sikap terhadap John Kei atau teman-temannya yang membuat resah kota Jakarta," ucap Bram.
Dia pun meminta agar kepolisian tidak tertutup dan selalu memberi tahu perkembangan kasus John Kei kepada publik. "Kejar juga yang sepuluh pelaku lainnya," katanya.
Bram mengatakan, pertikaian antarkelompok ini memang kerap terjadi berdasarkan asal daerahnya. Antarkelompok itu, konflik biasanya terjadi karena kepentingan bisnis. "Kami ingin buka semua gamblang dan semuanya," ujar Bram.
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto menuturkan, kehadiran massa anti-John Kei ini mengajukan dukungan ke Kapolda untuk memberantas premanisme. "Premanisme ini diberantas agar Jakarta lebih aman bagi kehidupan masyarakat dan kehidupan ekonomi serta budaya," katanya.
