Pasca Ali Sadikin, Jakarta Gagal Bertransformasi
- Penulis :
- Riana Afifah
- Sabtu, 3 Maret 2012 | 21:22 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Selama ini, Jakarta selalu disebut-sebut sebagai kota metropolitan, namun tidak demikian menurut pandangan sejarawan, JJ Rizal. Ia justru menganggap Jakarta gagal bertransformasi menjadi kota yang metropolis dan malah menjadi kota yang miseropolis.

"Pemimpin Jakarta itu tidak mengorangkan masyarakatnya. Setelah Ali Sadikin, budaya diam dari pimpinan ini makin terlihat. Persoalan bertumpuk, akhirnya Jakarta gagal bertransformasi," kata Rizal, dalam diskusi "Untuk Jakarta Lebih Baik", di Galery Cafe, Jakarta, Sabtu (3/3/2012).
Menurut Rizal, keberhasilan Ali Sadikin saat memimpin Jakarta itu karena alasan yang sederhana yaitu mau bekerja keras. Sementara pemimpin setelah Ali Sadikin justru membiarkan masalah bertumpuk-tumpuk. "Dibiarkan saja terus menerus. Sampai akhirnya yang jadi korbannya ya masyarakat," ujar Rizal.
Sementara itu, Pengamat Perkotaan dari Universitas Trisakti, Yayat Supriatna juga mengungkapkan hal yang serupa. Bahkan Yayat menyebut Jakarta sebagai kota tiranopolis atau kota yang penuh kekerasan. "Jakarta itu kota tiranopolis yang membuat masyarakatnya selalu dalam keadaan mencekam. Hari ke hari hanya masalah dan masalah," jelas Yayat.
Untuk itu, Yayat berharap pada siapa saja nanti yang akan menjadi pemimpin Jakarta untuk berkomitmen menyelesaikan masalah Jakarta dan tidak sekadar umbar janji. Apalagi warga Jakarta sekarang ini seolah sudah tidak peduli dengan apa yang terjadi pada sekitarnya. "Warga Jakarta ini tingkat ketidakpeduliannya sangat tinggi. Jadi bagi gubernur yang akan datang harus mampu melakukan pendekatan untuk memunculkan kesadaran pada masyarakat," tandasnya.