Selasa, 2 September 2014

News / Megapolitan

Tangan Kanan Hercules Inisiatif Bantu Pelarian Renny dan Suaminya

Senin, 5 Maret 2012 | 21:19 WIB

Terkait

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepolisian Resor Metro Jakarta Pusat kini tengah mendalami orang-orang yang membantu pelarian Renny Tupessy dan suaminya, Heri, ke Indramayu, Jawa Barat. Keduanya ditangkap tim Polrestro Jakarta Pusat pada Minggu (3/3/2012) pagi di sebuah rumah yang ternyata milik Hercules, pimpinan kelompok Timor.

Penangkapan dilakukan karena Renny dan suaminya diduga terlibat penyerangan di rumah duka RSPAD Gatot Subroto beberapa waktu lalu. Hercules sendiri sudah membantah membantu Renny dan Heri melarikan diri. Hercules menunjuk bahwa Fransisco Suarez Rekardo alias Bobby yang mengetahui pelarian itu.

Saat diwawancarai di kediamannya di Tanjung Duren, Jakarta Barat, Bobby mengaku dirinya bertanggung jawab atas pelarian itu. "Ini semua tanggung jawab saya. Abang saya (Hercules) dia tidak tahu. Saya yang inisiatif membawa mereka ke sana," ungkap Bobby yang merupakan orang kepercayaan Hercules ini.

Bobby mengaku awalnya tidak mengenal Renny dan suaminya. "Saya hanya kenal dengan kakaknya, Edo. Edo itu dekat sekali dengan Abang saya," ucap Bobby.

Namun, tiga hari setelah insiden RSPAD pecah, Renny tiba-tiba saja mendatangi rumah Bobby. Saat itu, Renny meminta bantuan Bobby untuk mencari perlindungan dan menitipkan tujuh orang anaknya.

"Saya melihat mereka ketakutan namanya dicari-cari polisi. Anak-anaknya jadi kebingunga," papar Bobby.

Tujuh anak Renny dari dua pernikahannya, kata Bobby, masih terbilang belia. Anak tertua Renny yakni Petty (19) dan yang paling kecil berusia 8 tahun. Merasa iba dengan anak-anak Renny itu dan faktor kedekatan dengan Edo Tupessy, Bobby akhirnya menyanggupi membantu pasangan suami istri itu.

"Akhirnya saya bawa anak-anaknya untuk tinggal sama saya di sini. Saya akan sanggupi biaya pendidikannya. Sementara orang tuanya yang ketakutan minta tempat untuk menenangkan diri," ujar Bobby.

Bobby sempat tidak percaya begitu saja. Ia meminta komitmen Renny dan suami untuk menyerahkan diri kepada polisi jika polisi mencarinya. "Dia mengakui kalau terlibat dalam penyerangan itu. Saya bilang mereka harus janji dulu untuk siap memberikan keterangan, tidak kabur, dan siap menyerahkan diri dan mereka sanggupi," ungkap Bobby Ia pun kemudian memilih rumah milik Hercules di Indramayu.

"Alasannya yah karena kalau di hotel butuh biaya sementara rumah milik abang saya di Indramayu tidak ada yang menempati. Jadi saya putuskan untuk bawa mereka ke sana pakai mobil sewaan," tuturnya.

Bobby mengakui bahwa kepergiannya membawa Renny dan suaminya tanpa sepengetahuan Hercules. "Saya tahu saya salah tidak beri tahu abang saya. Karena menurut saya ini untuk kebaikan, jadi saya sanggupi," ujarnya.

Selama empat malam Renny dan sang suami tinggal di rumah itu ditemani seorang suster yang menjaga rumah Hercules. Tidak ada pengamanan khusus yang dilakukan. Sampai akhirnya polisi mencium keterlibatan Bobby dalam pelarian wanita yang disebut-sebut sebagai otak penyerangan sadis itu.

Di rumah Bobby yang menampung banyak pemuda keturunan Timor, polisi akhirnya melakukan penggerebekan besar-besaran pada Sabtu (3/3/2012) malam. Sekitar 20-an orang diamankan kepolisian malam itu untuk mencari keberadaan Renny dan suaminya.

"Saya juga ikut diambil polisi. Saya ditanya apa saya tahu di mana Renny. Saya bilang ada sama saya. Setelah itu, Minggu jam 04.00, saya diminta tunjukkan tempatnya bersama Kasat Reskrim Pusat," ucap Bobby.

Begitu tiba di lokasi pada Minggu pagi, Renny dan Heri sedang tertidur pulas. "Saya bangunkan mereka. Jadi nggak ada itu penggerebekan. Yang ada, kami jemput baik-baik dan bawa mereka kembali ke Polres. Mereka tidak melawan," imbuh Bobby.

Renny ditetapkan sebagai tersangka bersama dengan sembilan orang lainnya yakni Edward Tupessy alias Edo, Gheretes Tamatala alias Heri, Tony Poceratu alias Ongen, Rent Penturi, Abraham Tuhehai, Yongky Maslebu, Rely Petirulan, Onchu, dan R. Sedangkan, tiga orang lainnya masih diburu. Mereka ditetapkan sebagai tersangka lantaran terlibat dalam kasus penyerangan di rumah duka RSPAD Gatot Subroto pada Kamis (24/2/2012) dini hari. Dua orang tewas dalam peristiwa itu, sedangkan enam orang lainnya mengalami luka bacok. Motif penyerangan ini adalah penagihan utang piutang narkoba senilai Rp 280 juta.


Penulis: Sabrina Asril
Editor : Pepih Nugraha