Jumat, 18 April 2014

News / Megapolitan

Inilah Kisah di Balik Enam Ponsel Ahok

Rabu, 11 April 2012 | 08:51 WIB

Baca juga

JAKARTA, KOMPAS.com - Keterbukaan merupakan sebuah prinsip yang melekat pada diri Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, politisi Partai Golkar yang "digaet" Partai Gerindra yang kini mengadu nasib menjadi bakal calon gubernur DKI Jakarta. Tidak hanya gaya bicaranya yang ceplas-ceplos dan kerap kali membuat orang mengernyitkan dahi, tetapi juga sikapnya kepada masyarakat yang sangat terbuka. Ahok mudah didekati warganya.

Semenjak jadi Bupati Belitung Timur pada tahun 2005-2010, Ahok sudah menyebar nomor ponsel pribadinya kepada masyarakat, termasuk juga email dan juga nomor PIN Blackberry pria keturunan Tiong Hoa ini. Akibat menyebarkan nomor PIN Blackberry itu, ponsel Ahok sempat hang karena membanjirnya permintaan pertemanan.

Di dalam website resminya, www.ahok.org, Ahok bahkan sampai mencantumkan berita permintaan maafnya karena tidak bisa menerima semua permintaan pertemanan di Blackberry.

"TP (Tjahaja Purnama) meminta maaf kepada rekan-rekan yang meng-add PIN BB namun hingga kini masih belum di-accept, karena hingga (8/12) telah ada 414 permintaan untuk meng-add, karena kapasitas BB hanya 2000 kontak sehingga untuk sementara tidak bisa semua permintaan di-accept. Sementara untuk berkomunikasi bisa via E-mail btp@ahok.org atau ahokbtp@gmail.com atau via SMS ke 0811 944 728. Terima kasih atas perhatian, info dan dukungannya," demikian tulisnya.

Ditemui dalam diskusi di Freedom Institute, Selasa (10/4/2012) malam, Ahok menceritakan kisah di balik keterbukaannya kepada masyarakat. "Keterbukaan ini penting agar akses masyarakat ke saya tidak ada kendala dan saya bisa mengawasi bagaimana pelayanan masyarakat sebenarnya terjadi di bawah," katanya/

Ahok mengatakan, kini dirinya memiliki enam ponsel Blackberry yang siap menerima segala keluhan dan masukan masyarakat. Enam ponsel itu terdiri dari dua nomor lamanya yang sudah diketahui masyarakat, nomor khusus melayani pertanyaan wartawan, dan nomor untuk SMS Center Jokowi-Ahok.

"Tidak ada satu pun nomor yang saya tutupi, semuanya terbuka untuk melayani siapa saja," ucap Ahok.

1000 pesan per hari

Dengan membagi-bagikan nomor pribadinya, Ahok tak memungkiri dirinya kebanjiran pesan dari masyarakat. Pada saat di Belitung Timur dulu, dia bahkan menerima 1.000 keluhan setiap harinya. Macam-macam hal dikritik masyarakat mulai dari pelayanan rumah sakit hingga pungutan liar di sekolah.

"Ada sampai 1.000 pesan setiap harinya saya terima. Isinya protes masyarakat semua," kata mantan politisi Golkar ini.

Untuk melayani semua pertanyaan, keluhan, dan saran masyarakat itu, Ahok terpaksa menugaskan satu orang asistennya untuk membacakan satu per satu isi pesan itu. "Sambil saya tanda tangani surat-surat, dia bacakan isi-isi pesannya. Nanti saya jawab, dia yang nulis," katanya.

Ahok mengenang, pernah ada satu kasus di mana ada warga yang melaporkan adanya pungutan di rumah sakit padahal dia sudah mengurus jaminan kesehatan bagi warga miskin. Sang warga kerap dimintai dana setiap kali ganti infus.

"Wah, nggak benar ini. Adik saya dokter, jadi saya tahu bagaimana akal-akalannya perawat ganti-ganti infus minta bayar. Akhirnya, saya datangi itu rumah sakit, saya marah-marah. Saya sampai takut kalau sakit nggak mau di rumah sakit itu, takut disuntik mati. Ha-ha-ha-ha," kenang Ahok.

Cerita menarik lainnya juga terjadi di Belitung Timur. Ahok mendapat laporan warga kalau ada polisi hutan yang memalak uang para pengusaha. Polisi hutan itu pun dendam kesumat dengan sosok sang Bupati. Tak jelas alasannya apa. Polisi hutan itu bahkan sempat mengancam akan menghabisi nyawa Ahok.

"Saya minta tolong orang cari itu polisi hutannya siapa, apa benar dia mau habisi saya? Eh, ternyata benar saya sampai punya rekamannya," ujar Ahok.

Kendati berparas jauh dari sangar, Ahok yang langsung naik pitam itu berusaha tenang. Ada cara cerdik yang dilakukannya. Suatu waktu, Ahok membuat apel pertemuan dengan para polisi hutan.

"Di tengah pidato saya, saya tunjuk itu polisi hutan. 'Hei kamu, kamu mau ngapain saya? Saya punya rekamannya. Mulai besok, kamu urus sampah saja, nggak usah lagi malak-malakin orang di hutan'. Dendam kesumat dia sama saya," tutur Ahok.

Cerita-cerita itu, diakui Ahok, tidak akan ketahuan kalau pemimpinnya tidak bisa dijangkau masyarakat. "Dengan keterbukaan ini, yang awalnya saya terima sampai 1.000 lebih keluhan akhirnya menyusut jadi ratusan saja. Ini karena mekanisme pengawasan itu berjalan," katanya.

Oleh karena itu, Ahok pun berjanji akan mempertahankan sikap terbukanya itu jika dipercaya menjadi pemimpin Ibu Kota bersama Jokowi.

Istri terpaksa antre SMS

Dengan pencalonannya sebagai bakal calon Gubernur DKI, Ahok mengakui semakin banyak pesan singkat (SMS) yang diterimanya. Ahok pun terpaksa menambah satu orang asistennya yang bertugas menjawab pertanyaan masyarakat.

"Kalau kemana-mana, dua asisten saya selalu ikut karena sambil di perjalanan, dia bacain semua pesan dari masyarakat," ujarnya.

Ahok mengaku punya format pesan singkat sendiri untuk mempercepat balasan. "Kalau dukungan, tinggal pencet TH nanti auto text terima kasih atas dukungannya seperti itu," papar Ahok.

Akibat sifatnya itu, cerita lucu pun kembali terulang. Pernah istri Ahok mengirimkan pesan singkat kepada sang suami. Lama sekali tidak dibalas karena menunggu antrian balasan ratusan pesan yang masuk.

"Pas saya balas, saya tulisnya terima kasih dukungannya. Ha-ha-ha-ha istri saya marah karena dia tahu itu auto text. Kadang-kadang memang istri saya terpaksa antre untuk SMS, saya tidak punya nomor khusus keluarga semuanya saya samakan saja disebar untuk siapa saja," paparnya.

Ahok mengaku beruntung dengan fasilitas grup Blackberry Messanger. Dengan adanya fasilitas ini, dia bisa berkomunikasi dengan keluarganya melalui grup itu. "Kalau mau tahu perkembangan keluarga, saya tinggal masuk ke grup itu," katanya.

Kendati banyak menerima pesan jahil yang hanya minta sekadar kenalan dan bertanya sedang apa, Ahok mengaku tidak kapok membagi-bagikan nomornya ke masyarakat. Menurutnya, lebih banyak manfaat yang bisa dipetik dengan sikap terbuka seperti itu.

"Saya yakin pemimpin harus terbuka, bersih, dengan begitu dia bisa menindak apa pun jenis pelanggarannya," kata pria tinggi besar itu.


Penulis: Sabrina Asril
Editor : Hertanto Soebijoto