Kamis, 2 Oktober 2014

News / Regional

Banyak Kendala, Proyek Wisata Banjir Kanal Barat

Jumat, 13 April 2012 | 11:55 WIB

SEMARANG, KOMPAS.com - Proyek taman wisata sungai menyerupai Singapore River, di Banjir Kanal Barat, Kota Semarang ternyata banyak kendala. Salah satunyan debit air sungai Banjir Kanal Barat yang tidak stabil serta tingginya sedimentasi menyebabkan biaya pengerukan dasar sungai tinggi.

Pengamat teknik sipil dan dosen FT Unika Soegijapranata Semarang, Jawa Tengah, Nelwan, Jumat (13/4/2012) mengatakan, proyek Banjir Kanal Barat perlu dikaji ulang. Proyek yang sudah berjalan lima bulan itu, baru sebatas memperindah tanggung sungai dengan desain linning wall.

"Proyek itu tidak bisa hanya membenahi bagian hilir saja, banjir kanal yang dibangun hanya 1-2 kilometer, sedang sungai dari terus Kaligarang itu hulunya di Ungaran, Kabupaten Semarang, " ujar Nelwan.

Proyek Banjir Kanal Barat senilai Rp 1.7 triliun, menjadi sub bagian proyek Waduk Jatibarang atas bantuan dana pinjaman sindikasi bank di Jepang, bertujuan menjadikan areal sungai sebagai lokasi wisata.

Wisata yang disediakan jalan sehat di trackjogging di tepi sungai, sarana bermain, wisata perahu serta resto di atas air dengan estimasi pertengahan 2013 sudah rampung dan berfungsi. Tumpuan lokasi wisata hanya 500 meter dari Jembatan Karangsayu ke utara sampai jembatan rel kereta api di Krokosono di Semarang Barat.

Nelwan menyatakan, proyek itu hanya "ngeceh ngeceh duit" (menghamburkan uang tanpa manfaat) kalau elevasi air sungai tidak rutin selalu dijaga. Menjaga sungai tidak dangkal artinya harus ada perawatan pengerukan rutin, biaya pengerukan sungai sekitar Rp 100 miliar per tahun.

Dengan pengerukan rutin, maka permukaan air mencukupi untuk lalu lintas perahu dan aman bagi pengunjung. Membiarkan sungai dangkal, menyebabkan perahu kandas, tidak bisa berlayar serta air akan meluap saat hujan.

Luapan malah jadi banjir bandang yang memporak-porandakan sarana rekreasi di sekitar sungai, itu akan terjadi manakala hujan lebat berlangsung di bagian hulu terutama wilayah Banyumanik dan Ungaran.


Penulis: Winarto Herusansono
Editor : Robert Adhi Ksp