Rabu, 22 Mei 2013
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 22 Mei 2013 | 19:42 WIB
Didik: Warga Jakarta, Orang yang Paling Menderita
Penulis : Imanuel More | Jumat, 13 April 2012 | 22:16 WIB
|
Share:
Didik: Warga Jakarta, Orang yang Paling Menderita KOMPAS/IWAN SETIYAWAN Kemacetan terjadi di dua arah Jalan Gatot Subroto, Jakarta, baik di jalan arteri maupun jalan tol dalam kota, Kamis (5/1/2012).

JAKARTA, KOMPAS.com - Didik Rachbini menilai warga Jakarta termasuk orang-orang yang paling menderita di dunia. Penyebabnya tidak lain dari kemacetan di jalan-jalan Ibukota yang semakin parah dari hari ke hari. "Warga Jakarta termasuk orang-orang yang paling menderita di dunia. Stres karena macet dan tidak ada alternatif transportasi yang memadai," kata Didik Rachbini saat memaparkan program kepada wartawan di Apartemen Park Royale, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Jumat (13/4/2012).

Saya tidak malu dianggap meniru transportasi Singapura dan Kuala Lumpur.
-- Didik J Rachbini

Bakal calon Wakil Gubernur DKI Jakarta yang diusung Partai Keadilan Sejahtera itu menjelaskan untuk tingkat Asia sekali pun Ibukota Indonesia terhitung terbelakang dalam hal penanganan transportasi. Pasalnya, hanya tersisa tiga kota di Asia yang masih bermasalah dengan kemacetan.

"Itu pun Manila sudah mulai mengembangkan sistem transportasi cepat. Berarti di Asia tinggal Jakarta dan Mumbay (India) yang dililit kemacetan. Kota lainnya sudah bisa dibereskan wali kota atau gubernurnya," kata pengamat ekonomi yang menjadi pasangan Hidayat Nur Wahid dalam pilkada DKI Jakarta mendatang.

Karena itu, salah satu prioritas pasangan Hidayat-Didik jika menjadi pemimpin Jakarta adalah membenahi sektor transportasi. Sebagai kerangka dasar dalam paparan konsep transportasi Jakarta, Didik cenderung ke transportasi massal yang dikembangkan Kuala Lumpur dan Singapura. "Saya tidak malu dianggap meniru Singapura dan Kuala Lumpur. Monorel di Kuala Lumpur sangat bagus dan punya banyak line (jurusan), ada delapan line," lanjut Didik yang baru pekan lalu melakukan studi banding di Singapura dan Kuala Lumpur.

Ia menjelaskan, baik monorel di Malaysia maupun MRT di Singapura selalu dipenuhi penumpang. Meski demikian, kenyamanan kedua moda transportasi massal itu tidak berkurang. Itulah sebabnya banyak orang meninggalkan kendaraan pribadi dan memilih bepergian dengan transportasi umum. Hal itulah yang hendak dikembangkan pasangan yang diusung PKS itu di Jakarta.

Editor :
I Made Asdhiana