Sabtu, 25 Oktober 2014

News / Travel

Jokowi: Pertahankan Sepur Klutuk Jaladara

Rabu, 18 April 2012 | 15:37 WIB

SOLO, KOMPAS.com - Keberadaan kereta api uap kuno Sepur Klutuk Jaladara yang menjadi salah satu daya tarik kunjungan wisatawan, baik asing maupun dalam negeri ke Solo, diharapkan tetap dipertahankan. Untuk itu dewan diminta tetap menganggarkan subsidi operasional kereta tua tersebut.

"Saya akan meminta kepada para anggota dewan di Solo untuk tetap menganggarkan subsidi pengoperasian kereta api tua tersebut yang sudah mulai dikenal wisatawan," kata Wali Kota Surakarta, Joko Widodo (Jokowi) kepada wartawan di Solo, Rabu (18/4/2012).

Ia mengatakan pengoperasian kereta api kuno Jaladara bukan semata-mata mencari keuntungan, tetapi untuk ikon Kota Solo yang bernilai tinggi. Kereta api seperti ini yang beroperasi di Indonesia satu-satunya tinggal di Solo.

Kereta api kuno Jaladara pada tahun ini mendapat alokasi APBD Rp 700 juta. Ini termasuk biaya operasional berikut pemeliharaan kereta api berbahan bakar kayu tersebut. DPRD Kota Surakarta juga telah menghitung pendapatan sewa Jaladara sekitar Rp 100 juta tahun lalu.

"Ya ketimpangan inilah yang menyebabkan kalangan dewan berniat menyetop subsidi Jaladara pada tahun depan. Artinya moda transportasi wisata tersebut terancam tanpa sokongan dana dari APBD Kota Surakarta," kata Jokowi.

Oleh karena itu Jokowi akan mengupayakan komunikasi dan pertemuan dengan dewan agar tidak ada perbedaan persepsi. "Apa yang diperoleh dari keberadaan Jaladara itu berupa intangible profit. Memang kalau hanya dilihat dari keuntungannya sedikit, tetapi bukan berarti lalu dihentikan subsidinya," lanjut Jokowi.

Jaladara selain mempengaruhi geliat wisata dan perekonomian lokal juga dipercaya mempromosikan Kota Solo. Untuk menghindari penyetopan subsidi, Jokowi lebih sepakat adanya kebijakan lain yakni pengurangan subsidi disertai peningkatan promosi Jaladara. Masalah ini perlu dibahas khusus melalui perhitungan ekonomis dengan menghadirkan seluruh pemangku kepentingan (stakeholder).

Ketua DPRD Kota Surakarta, YF Sukasno mengatakan penghentian subsidi Jaladara belum final. Hal tersebut masih berupa wacana, tetapi dirinya mengakui operasional Jaladara terlalu tinggi dan tidak sebanding dengan pendapatannya.

Ia mengatakan, untuk bisa mempertahankan ikon Kota Solo itu, pihaknya minta institusi terkait melakukan kajian. Termasuk ukuran multiplier effect Jaladara bagi penduduk lokal yang selama ini dipercaya berpengaruh besar. "Kita akan melihat apakah multiplier effect dari kereta ini bisa menutup penilaian dari sisi anggaran tadi," kata Soekasno.

Sepur Kluthuk Jaladara merupakan kereta uap dengan loko buatan pada 1896 yang didatangkan langsung dari Museum Kereta Api di Ambarawa. Kereta berkapasitas 80 penumpang ini melintas di tengah kota dari Stasiun Purwosari sampai Stasiun Sangkrah.

Selama menaiki kereta wisata tersebut, penumpang akan diajak singgah di beberapa perhentian yaitu Kampung Batik Laweyan, Loji Gandrung, Ngapeman, Pasar Pon, Keraton Kasunanan Surakarta dan Gladak.

Tarif sekali jalan naik Sepur Kluthuk Jaladara Rp 100.000 per orang. Biaya operasional sekali jalan yang dibutuhkan oleh Sepur Kluthuk Jaladara adalah sekitar Rp 3,5 juta untuk bahan bakar tiga meter kubik kayu jati.


Editor : I Made Asdhiana
Sumber: