Minggu, 23 November 2014

News / Megapolitan

Inilah Langkah Ahok untuk Reformasi Jilid Dua

Kamis, 19 April 2012 | 05:19 WIB

Terkait

JAKARTA, KOMPAS.com — Reformasi di Indonesia telah berjalan selama 14 tahun sejak jatuhnya rezim Orde Baru di bawah pimpinan Soeharto. Namun, yang terjadi saat ini di Indonesia sudah tidak sejalan lagi dengan semangat reformasi yang dulu didengungkan. Bakal calon wakil gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, angkat bicara mengenai semangat reformasi yang harus dinyalakan kembali.

"Selama reformasi ini ada satu hal yang hilang. Ada sebuah rantai yang hilang dari politisi, yaitu tidak pernah mendidik para pemilih agar memilih yang lebih baik dari dirinya," kata Ahok, sapaan akrab Basuki Tjahaja Purnama, ketika berkunjung ke Redaksi Kompas.com, Selasa (17/4/2012).

Untuk itu, ia mengimbau kepada para pemilih agar mau melihat rekam jejak para calon yang akan bersaing dalam pilkada kali ini. Hampir di setiap kesempatan, mantan Bupati Belitung Timur ini mengatakan kepada masyarakat untuk tidak memilihnya jika terbukti ada yang lebih baik. "Kalau saya ya, kalau ada orang yang bisa menata Jakarta jadi nyaman aman dan enak ditinggali, ya ngapain kita yang ngerjain. Saya nikmatin aja. Ini pola yang berbeda. Saya bukan mau kekuasaan kok," ungkap Ahok.

"Tapi bagaimana membuat Jakarta sebagai barometer supaya rakyat punya jaminan sosial sehingga 32 provinsi lain di Indonesia dipaksa untuk ikut. Kami targetnya jelas, kami bukan petinju yang asal mukul. Target kami sangat jelas, yaitu jangka panjang tentang Indonesia," lanjutnya.

Ia mengungkapkan bahwa pada umumnya seorang politisi akan lebih memilih untuk merangkul warga yang berasal dari komunitas, etnis, dan agama yang sama untuk meraup dukungan. Konsep tersebut menurut pria kelahiran Manggar 45 tahun lalu itu sudah umum dilakukan. "Saya tidak pernah berpolitik seperti itu. Kalau berpolitik seperti itu, ya saya enggak pernah jadi bupati. Tapi saya punya keyakinan, masyarakat pemilih punya nurani sehingga mampu memilih yang bersih dari kepentingan tanpa melihat ras, agama, dan suku. Sudah semestinya kan, mau ras, agama, dan suku apa pun dapat tinggal dengan tenang," ujar Ahok.

Ia juga memahami mengapa kini masyarakat mulai jenuh dengan partai politik sehingga lebih memilih untuk golongan putih (golput) pada saat penyelenggaraan pemilihan kepala daerah (pilkada) maupun pemilihan presiden (pilpres). Masyarakat menilai, lanjutnya, bahwa pemilu yang selama ini dilakukan tidak membawa kesejahteraan bagi rakyat. "Ini masyarakat yang pilih sendiri, tapi kok bukan untuk kesejahteraan dia. Kalau mau dipilih datang, kalau terpilih lupa. Itu sebabnya masyarakat enggak percaya lagi dengan partai. Masalahnya ini ada distorsi, yang berani curang, yang berani maling, yang punya duit umumnya yang bisa menang," jelas Ahok.

"Tapi di Jakarta terbukti ada parpol yang mau ngasih kereta secara gratis. Soal itu kenapa terjadi? Ini akibat dari bayi reformasi yang sudah bertumbuh menjadi remaja," imbuhnya. Menurutnya, reformasi yang sudah bergema sejak 14 tahun lalu tersebut tidak pernah tuntas sampai sekarang. Untuk itu, salah satu langkah sangat simpel dan sering dikatakan tidak masuk akal oleh banyak orang adalah ia tidak pernah membagikan kaus kepada masyarakat yang dituju untuk memilihnya.

"Saya enggak pernah bagi baju kaus. Dari pemilihan bupati sampai gubernur, makanya sekarang Jakarta saya juga enggak mau bagi kaus. Bagi orang lain memang enggak masuk akal, tapi inilah pendidikan politik yang harus kita tanam. Supaya setelah memasuki Pilpres 2014 semuanya ada yang berubah sehingga ada reformasi yang benar tuntas," ungkapnya.

Hal lain yang berbeda dari sosok ini adalah kebiasaannya membagikan kartu nama dan nomor telepon kepada masyarakat. Khusus untuk Jakarta, dirinya dan Joko Widodo juga membagikan stiker yang di dalamnya tertera nomor SMS center. "Ada juga nomor pribadi di kartu nama. Tapi kalau untuk di Jakarta, kalau terlalu banyak, takutnya malah hang handphone-nya. Jadi nanti di stiker akan ada nomor SMS centre yang bisa forward langsung ke kami punya nomor," tuturnya.

Saat berkunjung ke Redaksi Kompas.com, pria yang pernah duduk di kursi DPR ini tidak canggung membagikan kartu namanya kepada petugas cleaning service, office boy, dan satpam yang berpapasan dengannya. Dengan ramah, ia juga mengungkapkan bahwa nomor yang tercantum di kartu nama tersebut dapat dihubungi kapan saja jika ada masalah Jakarta yang ingin diadukan seandainya terpilih nanti. "Ini suatu terobosan yang menurut orang politik ini bunuh diri. Tapi, bagi kami inilah untuk menyelesaikan reformasi jilid dua. Masak reformasi hanya menghasilkan orang yang punya duit yang menang, yang berani nyogok yang menang," tandasnya.


Penulis: Riana Afifah
Editor : Egidius Patnistik