Kamis, 17 April 2014

News / Megapolitan

Hati-hati Dengan Survei Jelang Pilkada

Minggu, 22 April 2012 | 20:55 WIB

Baca juga

JAKARTA, KOMPAS.com - Jelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2012, berbagai lembaga survei mulai mengeluarkan hasil surveinya masing-masing tentang enam pasang bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI.

Pengamat politik dari Universitas Indonesia, Eep Saefulloh Fatah, mengatakan, terdapat survei ini sering dijadikan alat oleh calon yang hendak melaju di Pilkada. Untuk itu, harus diketahui bahwa ada tiga hal yang menjadi permainan dalam survei ini.

"Yang pertama, sering kali survei ini digunakan untuk memobilisasi psikis pemilih," kata Eep, ketika dijumpai di acara diskusi Jakarta Baru : Kenapa Harus Jokowi-Ahok? di Waroeng Solo, Jakarta, Minggu (22/4/2012).

Sementara hal yang kedua adalah memainkan margin of error dalam statistik survei tersebut. Hal ini yang menyebabkan perbedaan hasil antara satu calon dengan calon lainnya terlihat cukup jauh. Misalnya margin of error lima persen, calon yang didukungnya itu dinaikkan lima persen dari hasil semestinya. Pesaingnya diturunkan lima persen dari hasil semestinya. Jadi, si A hasilnya 30 persen, bisa jadi 35 persen. Nah, si B hasilnya 28 persen, bisa jadi 23 persen.

"Jadi jauh kan. Ada pihak yang mengatakan permainan statistik ini sah karena berdasarkan margin of error," katanya.

Sedangkan yang ketiga, jika ada lembaga yang menyampaikan hasil survei dengan mengatakan bahwa lembaganya independen, maka sebaiknya tidak mudah percaya. "Bohong kalau bilang independen. Tapi sebenarnya tidak masalah, mau si A atau si B yang bayar harusnya hasilnya tidak banyak berbeda," ungkapnya.

Mengingat metodologi survei dan cara yang digunakan menurut panduan akademis semuanya sama saja. Sehingga tidak semestinya hasil lembaga survei yang satu dengan yang lainnya memiliki perbedaan hasil yang cukup jauh.

Eep juga mengungkapkan bahwa dirinya bersama lembaga yang didirikannya juga melakukan survei pada 1.200 responden dengan margin error 2,9 persen. Namun ketika ditanya mengenai hasil, ia tidak mau menjelaskannya.

"Sudah dilakukan dari minggu lalu. Survei biasanya sekitar 10 hari. Yang disurvei semua hal, tidak hanya elektabilitas saja," ujarnya.

Tapi memang elektabilitas yang lebih sering diperlihatkan karena ini bisa menggiring psikis pemilih. Jadi hati-hati, saat minggu tenang, kata Eep, biasanya ada yang mengeluarkan.


Penulis: Riana Afifah
Editor : Hertanto Soebijoto