Minggu, 23 November 2014

News / Megapolitan

Jakarta Rentan Perubahan Iklim, Warga Miskin Paling Terdampak

Kamis, 3 Mei 2012 | 01:52 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Dari 530 daerah perkotaan di tujuh negara Asia Tenggara, lima kotamadya Jakarta termasuk dalam 10 daerah paling rawan yang terkena dampak perubahan iklim.

Hasil tersebut didapat berdasarkan kajian dari Economy and Enviroment for South East Asia. Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengatakan bahwa perubahan iklim yang terjadi saat ini berpengaruh pada kualitas hidup orang Jakarta.

Dari sebagian banyak warga Jakarta, kalangan yang terkena dampak paling besar adalah kalangan menengah ke bawah karena mata pencahariannya terganggu.

"Masalah yang kita hadapi berkaitan satu sama lain, tidak ada masalah yang berdiri sendiri," kata Foke, sapaan akrab Fauzi Bowo, dalam pembukaan Flood Risk Management and Urban Resilience Workshop di Hotel Shangrilla, Jakarta, Rabu (2/5/2012).

Ia menjelaskan bahwa perubahan iklim dan cuaca yang terlampau ekstrem membawa peningkatan curah hujan dan berujung pada banjir yang sifatnya merusak. Bahkan, bencana banjir ini pada akhirnya melebar pada masalah ketahanan pangan.

"Sebagai kepala daerah yang menghadapi masalah ini dan langsung di lapangan berhadapan dengan masyarakat, sudah tentu kami harus membuat pencegahan dan solusi," ungkap Foke.

Selanjutnya, ia menuturkan pada saat banjir besar 2007, Jakarta sempat lumpuh selama beberapa hari, dan 400.000 orang dipaksa mengungsi. Total kerugian akibat peristiwa tersebut diperkirakan mencapai 695 juta dollar AS.

"Saat banjir besar itu, warga dari kalangan menengah ke bawah paling menderita," tutur Foke. Untuk itu, manajemen risiko banjir dan penataan ketahanan kota yang sedang coba digarap oleh Jakarta harus memprioritaskan kalangan menengah ke bawah.

Hal ini mengingat, mereka yang paling terimbas banjir. Berbagai langkah untuk memecahkan banjir dilakukan, yaitu pengerukan 13 sungai, pengembangan Banjir Kanal Timur (BKT), dan Banjir Kanal Barat (BKB), serta rencana pembangunan giant sea wall yang diproyeksikan mampu menyiasati penurunan tanah di daerah utara.

"Langkah-langkah ini sudah ada yang berjalan, seperti BKT. Bisa minta testimoni warga di (Jakarta) Timur yang dulu kebanjiran, sekarang sudah tidak lagi. Berarti itu berfungsi," ungkap Foke. "Pengalaman saya di Jakarta, keterlibatan masyarakat itu penting. Sebagai pembuat kebijakan dan ahli perkotaan harus bisa mendengarkan masyarakat yang dilayani, bila ingin berhasil," tandasnya.


Penulis: Riana Afifah
Editor : Reza Wahyudi