Rabu, 22 Mei 2013
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 22 Mei 2013 | 10:32 WIB
Kecelakaan Sukhoi
Inilah Tips bagi Wartawan Peliput Keluarga Korban
Penulis : Andy Riza Hidayat | Minggu, 13 Mei 2012 | 22:44 WIB
|
Share:
Inilah Tips bagi Wartawan Peliput Keluarga Korban KOMPAS.cm/ DYAMA Keluarga korban mendaftarkan diri di Posko Tim DVI Indonesia (12/5/2012). Sebagian besar keluarga korban sudah mulai berdatangan ke RS Polri di Kramat Jati, Jakarta. Mereka datang untuk memantau proses identifikasi jenasah korban jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100.

JAKARTA, KOMPAS.com — Himpunan Psikologi Seluruh Indonesia Cabang Jakarta menawarkan panduan yang dapat dipakai para jurnalis dalam meliput peristiwa traumatis. Panduan ini penting, terutama ketika jurnalis mewawancarai penyintas dan keluarga korban. Penyintas adalah istilah untuk korban yang selamat dari bencana.

"Keduanya, penyintas dan keluarga korban, mengalami kondisi yang hampir sama. Suasana psikologisnya tidak jauh berbeda, perlu empati dari orang lain," tutur Mira Rumeser dari Himpunan Psikologi Seluruh Indonesia (Himpsi) Cabang Jakarta, Minggu (13/5/2012).

Menurut Mira, ada beberapa tips yang bisa menjadi panduan bagi jurnalis dalam menggali berita, terutama kepada penyintas dan keluarga korban:

1. Perhatikan bahasa tubuh dan kondisi narasumber.
2. Memperkenalkan diri dengan jelas.
3. Memulai wawancara dengan ungkapan simpatik dan dimulai dengan pertanyaan ringan.
4. Menghindari pertanyaan yang bersifat mencecar.
5. Lebih baik banyak mendengarkan daripada berbicara.
6. Menunjukkan penghargaan atas kerja sama dengan narasumber.

Tips di atas dapat dipakai untuk menghindari dampak negatif bagi penyintas dan keluarga korban. Sebab, dua hari terakhir, ketika tim Himpsi turun mendampingi keluarga korban kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet 100, beberapa keluarga mengeluhkan cara media menggali informasi.

Editor :
Marcus Suprihadi