Senin, 1 September 2014

News /

Jaringan KRL Sampai Stasiun Maja

Rabu, 16 Mei 2012 | 02:57 WIB

Jakarta, Kompas - Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan berencana mengoperasikan elektrifikasi jalur kereta mulai Stasiun Parungpanjang hingga Stasiun Maja pada awal Juni 2012. Pengoperasian jalur yang bisa dilintasi KRL ini diharapkan menjadi moda transportasi alternatif.

Stasiun Maja berada di antara Stasiun Parungpanjang dan Stasiun Rangkasbitung. Selama ini pelayanan KRL hingga Stasiun Parungpanjang karena elektrifikasi baru sampai di stasiun itu. Perjalanan dari Stasiun Rangkasbitung ke Jakarta selama ini dilayani kereta lokal.

Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Tundjung Inderawan, Selasa (15/5), mengatakan, uji coba elektrifikasi jalur sudah selesai dilakukan. ”Rencananya, awal Juni akan kami resmikan elektrifikasi kereta di jalur ini,” kata Tundjung saat dihubungi lewat telepon.

Dengan elektrifikasi, penumpang di sekitar Stasiun Maja yang akan menuju Jakarta bisa memilih menggunakan kereta lokal seperti yang ada selama ini atau KRL. Dia mengatakan, masyarakat di sepanjang rel juga sudah mendukung rencana ini.

Operasional KRL, menurut Tundjung, akan diserahkan kepada PT Kereta Api Indonesia (KAI). Namun, dia berharap operasional di jalur yang baru akan dilayani KRL Commuterline.

Perluasan elektrifikasi kereta hingga ke Stasiun Maja diharapkan bisa menambah frekuensi perjalanan sehingga pembatasan penumpang bisa diberlakukan di wilayah yang sudah terlayani KRL.

Pembatasan

Pada 3 Mei 2012, masyarakat di sekitar Stasiun Daru memblokade rel karena menolak pembatasan penumpang kereta lokal. Stasiun Daru merupakan salah satu stasiun yang terletak di antara Rangkasbitung dan Parungpanjang.

Pembatasan penumpang diatur dalam Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 8 Tahun 2001 tentang Angkutan Kereta Api. Dalam Pasal 13 Ayat 1 Huruf c peraturan tersebut disebutkan, dalam keadaan tertentu, pelayanan angkutan penumpang kelas ekonomi kota (komuter) dapat dioperasikan dengan batas maksimum 200 persen dari kapasitas. Penolakan warga saat itu disebabkan tidak adanya penambahan perjalanan kereta. Padahal, kereta menjadi transportasi andalan warga. Pembatasan penumpang kereta itu akhirnya dicabut.

Siapkan kereta

Secara terpisah, Kepala Humas PT KAI Daop I Mateta Rijalulhaq mengatakan, PT KAI menyiapkan kereta untuk melayani jalur yang sudah dielektrifikasi. ”Ada beberapa armada yang siap dioperasikan bila jalur tersebut sudah resmi dibuka untuk KRL,” ujarnya.

Operator mendukung operasional KRL di wilayah itu untuk mengurangi kepadatan penumpang kereta lokal.

Tahun 2010 rata-rata penumpang yang berangkat dari stasiun-stasiun di antara Stasiun Maja dan Stasiun Parungpanjang mencapai lebih dari 16.000 orang per hari. Jumlah penumpang di lintas ini semakin tinggi seiring bertambahnya permukiman di kawasan ini.

Mateta belum bisa menyebutkan jumlah perjalanan KRL yang disiapkan untuk lintas ini. ”Penambahan perjalanan KRL harus mendapatkan izin dari Ditjen Perkeretaapian,” kata dia.

Selain itu, PT KAI juga akan membangun stabling atau tempat penyimpanan kereta di kawasan Parungpanjang. Dengan adanya stabling di lokasi ini, diharapkan KRL bisa lebih cepat sampai ke Stasiun Maja terutama pada pagi hari.

Selain elektrifikasi, rel di ruas antara Stasiun Serpong dan Stasiun Parungpanjang juga sudah selesai dibuat ganda. Sebelumnya, di ruang ini masih rel tunggal sehingga kereta dari dua arah harus bergantian melewati rel ini.

Tundjung mengatakan, tahun ini pihaknya akan memulai pembangunan rel ganda Parungpanjang-Maja. ”Diharapkan, rel ganda di ruas ini akan rampung pada 2013,” ujar Tundjung.

Tahap selanjutnya, Ditjen Perkeretaapian merencanakan pembangunan jalur ganda dan elektrifikasi hingga ke Stasiun Rangkasbitung pada 2014. Dengan begitu, perjalanan RangkasbitungJakarta bisa dilayani KRL.

Untuk perjalanan dari Stasiun Rangkasbitung ke Stasiun Merak pada 2014 direncanakan dilayani dengan kereta rel diesel berpenyejuk ruangan. ”Tapi, kereta lokal tetap dipertahankan sehingga penumpang bisa memilih moda transportasi,” kata Tundjung.

Pengembangan Stasiun Merak, menurut Tundjung, masih dalam pembicaraan dengan pihak terkait. Apalagi hingga kini masih ada kepentingan transportasi kereta dan pelabuhan di stasiun itu. (ART)


Editor :