Minggu, 26 Mei 2013
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 26 Mei 2013 | 10:02 WIB
Hidayat: Ternyata di Sungai Pun Ada Macetnya
Penulis : Imanuel More | Selasa, 5 Juni 2012 | 17:45 WIB
|
Share:
Hidayat: Ternyata di Sungai Pun Ada Macetnya KOMPAS/IWAN SETIYAWAN Penataan Bantaran Ciliwung - Anak-anak yang tinggal di permukiman bantaran Sungai Ciliwung bermain di tepi sungai di kawasan Kampung Melayu, Jakarta, Minggu (22/4/2012). Pemerintah berencana merelokasi ribuan warga yang tinggal di bantaran Ciliwung di Kampung Melayu hingga Manggarai. Relokasi merupakan bagian penataan bantaran Ciliwung sekaligus menghindari dampak banjir.

JAKARTA, KOMPAS.com - Pasangan Cagub-Cawagub DKI Jakarta, Hidayat Nur Wahid dan Didik J. Rachbini mampu memperkaya pengalaman dan pengetahuan mereka tentang Jakarta. Masukan baru tersebut diperoleh keduanya saat menyusuri Kali Ciliwung dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia. "Ternyata kemacetan tidak hanya di jalan, di sungai pun ada macetnya," kata Hidayat seusai perjalanan dengan perahu karet di Bidaracina, Jatinegara, Jakarta Timur, Selasa (5/6/2012).

Mantan Ketua MPR RI itu layak berkesimpulan demikian. Halangan utama yang dihadapinya bersama tim dan sejumlah wartawan dalam perjalanan menumpang perahu karet bukanlah air kecokelatan yang bau dan kotor. Arus air yang deras pun tidak ditemui. Perjalanan pasangan yang diusung Partai Keadilan Sejahtera itu dihambat oleh tumpukan sampah yang bertebaran di sepanjang kali.

Puncaknya ditemui tim saat melintasi Tanjung Sanyang. Tumpukan sampah yang menggunung sepanjang 30 meter menghadang di tengah sungai. Hambatan kali ini tidak memungkinkan tim untuk melintas lewat sungai. Hidayat dan Didik pun terpaksa turun dari perahu dan berjalan kaki menyusuri kebun pisang. Sembilan perahu karet yang dipakai harus ditarik melewati tumpukan sampah tersebut.

"Saya menyesalkan kondisi seperti ini. Saya tanya 2007 lalu Pak Adang (Daradjatun, cagub DKI) menyisir sungai Ciliwung juga. Tidak ada sampah menggunung seperti ini. Justru 2012 baru ada seperti ini," kata Hidayat mengomentari kondisi Ciliwung.

Menurut Hidayat, kesalahan terkait sampah yang menggunung di sungai tidak bisa sepenuhnya diarahkan pada warga. Pasalnya, pemerintah pun belum menjalankan perannya secara maksimal. "Memang selama 30 atau 20 tahun tidak ada pengerukan. Saya tidak mau masyarakat hanya disalahkan," kata mantan Presiden PKS itu.

Langkah yang paling tepat, menurut Hidayat, adalah dengan mengajak warga mencari solusi permasalahan dan memfasilitasi mereka dalam program kebersihan lingkungan. Hidayat lantas menjabarkan beberapa kemungkinan sebagai langkah awal. "Siapkan bak sampah yang tidak mengarah ke sungai. Tapi jangan juga sampah itu dibiarkan menggunung. Lalu jangan bebankan mereka iuran sampah dan kita ubah gerobak (dorong) menjadi motor sampah," urai Hidayat.

Ia berharap permasalahan ini segera diselesaikan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan mengomunikasikan ke Dinas Pekerjaan Umum. Hal tersebut tidak berarti gubernur melempar tanggung jawab. Gubernur, menurut Hidayat, harus mampu bertindak sebagai koordinator dalam mengawasi kebersihan lingkungan di wilayahnya. "Ciliwung sudah parah, nggak ada yang ngurus sehingga jadi begini. Jadi, perlu langkah revolusioner, harus ada perubahan supaya bisa memberi Jakarta," tambah Didik Rachbini.

Menurut Didik, diperlukan satu otoritas khusus yang bekerja serius dalam menjaga, mengatur, dan mengawasi lingkungan sungai.

Editor :
I Made Asdhiana