Kamis, 23 Oktober 2014

News / Megapolitan

Foke: Hindari Macet, Pekerja Tak Perlu Datang ke Kantor

Rabu, 13 Juni 2012 | 06:56 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Prediksi Lalu lintas Jakarta akan mengalami stagnasi pada 2014 tampaknya bukan isapan jempol belaka. Wajah lalu lintas Jakarta dapat terlihat dari kondisi saat ini yang tidak berhenti dihantui kemacetan. Salah satu yang dapat dilakukan untuk mengurai kemacetan adalah dengan mengubah gaya hidup.

Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, mengatakan, kemacetan yang terjadi di Jakarta dapat diselesaikan dengan banyak cara. Selain membiasakan diri untuk naik angkutan umum daripada kendaraan pribadi, ada baiknya mulai melakukan pendekatan berbeda untuk menekan mobilitas warga Jakarta.

"Ada satu hal yang akan dilakukan secara spesifik yaitu mengontrol lalu lintas dengan pendekatan berbeda," kata Foke, sapaan akrab Fauzi Bowo, dalam simposium internasional ecotechnology di Hotel Ritz-Carlton, Jakarta, Selasa (12/6/2012).

Ia mengusulkan agar warga Jakarta sekarang dapat memanfaatkan teknologi informasi untuk melakukan berbagai hal sehingga dapat mengurangi efek mobilitas yang tinggi. Ia memberikan contoh bahwa pekerja tak perlu hadir di kantor yang terletak di pusat kota. Pekerjaan dapat diselesaikan di rumah atau di mana pun dengan memanfaatkan internet.

Begitu pula belanja dan aktivitas perbankan dapat memanfaatkan internet. "Sudah saatnya menjalankan e-working, e-banking, e-shopping, bahkan e-learning," ujar Foke.

Menurutnya, pemanfaatan teknologi informasi untuk beragam aktivitas warga Jakarta maupun yang tinggal di kawasan sekitar ibukota dinilai efektif dan efisien. Dengan memanfaatkan teknologi dan jaringan internet, waktu dan biaya tentunya dapat dihemat.

Kendati demikian, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tetap meneruskan program pembangunan jaringan jalan, pengadaan angkutan massal, dan pembenahan manajemen lalu lintas. Banyak hal yang terus dikembangkan dalam lima tahun terakhir ini.

Skema yang disiapkan pemerintah di antaranya pembatasan penggunaan kendaraan pribadi, peniadaan jalan simpang sebidang, penerapan tarif jalan di jalur tertentu, pelebaran jalan, pembangunan jalan baru, pengadaan pedestrian terutama untuk jalur sepeda dan pejalan kaki, dan pengelolaan parkir.

Terakhir, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga tetap menjalankan pembangunan transportasi yang mampu bergerak cepat, mampu mengangkut banyak orang dan nyaman. Untuk itu pengembangan Transjakarta dan Mass Rapid Transit (MRT) terus dikejar agar lekas selesai.

"Semua harus saling bersinergi. Tidak efisien dan efektif kalau hanya dengan mengontrol kendaraan pribadi," tandasnya.


Penulis: Riana Afifah
Editor : Heru Margianto