Selasa, 21 Mei 2013
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Selasa, 21 Mei 2013 | 13:52 WIB
Branding Negatif, Jakarta Layak Dibenci Pelancong
Penulis : Imanuel More | Sabtu, 16 Juni 2012 | 23:11 WIB
|
Share:
Branding Negatif, Jakarta Layak Dibenci Pelancong KONTAN/FRANSISKUS SIMBOLON ilustrasi

JAKARTA, KOMPAS.com - Situs CNNGO memasukkan Jakarta dalam 10 besar kota yang dibenci pelancong. Penilaian itu, menurut Joko Widodo, calon gubernur DKI Jakarta, layak disematkan pada Ibu Kota Indonesia lantaran Jakarta lebih lekat dengan pencitraan bernuansa negatif.

"Menurut saya tidak pernah dibangun manajemen produk, tidak ada manajemen brand, tidak pernah dibangun positioning Kota Jakarta itu di mana, brandnya apa," kata Jokowi dalam perbincangan dengan wartawan di Rumah Makan Sari Kuring, SCBD, Jakarta, Sabtu (16/6/2012).

Lantaran tidak pernah ada upaya untuk menonjolkan produk unggulan, Jakarta akhirnya lebih dikenal dengan cap atau brand negatif yang disematkan orang luar sesuai apa yang mereka lihat dan alami di Jakarta. Tak heran bila CNNGO menyebut Jakarta sebagai kota yang membuat perasaan para pelancong didominasi rasa frustasi.

Branding yang dilekatkan pada Jakarta adalah kota yang selalu diwarnai kemacetan lalu lintas, polusi udara, kurang tertata, kumuh, rawan banjir, dan gap kaya miskin yang jelas. "Dibangun dong brandnya, entah itu sebagai kota mode, kota karnaval atau apa yang lain. Tidak mesti seperti Paris juga (kota mode). Misalnya, sebagai kota festival. Nah itu yang dibangun jadi muncul brand itu." jelas Jokowi.

Untuk sampai pada penciptaan brand atau citra khusus, dibutuhkan partisipasi anggota masyarakat. Tugas pemerintah adalah menyiapkan desain produk, sedangkan masyarakat dilibatkan untuk memilih hingga menyukseskan opsi yang telah ditentukan bersama.

Ditemui di tempat terpisah, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok ikut pula mengomentari artikel yang dilansir CNNGO pada 11 Juni lalu. "Kota yang disukai wisatawan tentunya yang nyaman, bebas macet dan polusi juga banjir. Kalau seperti saat ini, ya wisatawan pasti benci," kata Ahok seusai acara dialog dengan warga Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Sabtu (16/6/2012) sore.

Menurut mantan Bupati Belitung Timur itu, Jakarta sangat mampu untuk berbenah. Pasalnya, di sinilah tempat berkumpul sumber daya manusia Indonesia kelas satu. Ia mencontohkan salah satu pemukiman modern di salah satu kota satelit yang dibangun swasta. Selain didesain secara rapi dan indah, lokasi tersebut menangkomodasi sisi tradisional dan modern serta memanusiakan kalangan kurang mampu.

"Itu artinya banyak orang pintar di Jakarta yang bisa mendesain kota menjadi lebih sehat dan nyaman," lanjut BTP, inisial yang kian akrab disematkan pada Ahok.

Menurut BTP, persoalan Jakarta bukanlah pada kualitas SDM melainkan pada kepentingan-kepentingan personal atau kelompok dan mentalitas pemimpin. "Tinggal pemimpinnya mau apa nggak. Kalau pemimpin tegas dan transparan, bawahan-bawahannya tidak akan berani macam-macam," tandas BTP.

Sebagaimana dalam sebuah artikel berjudul World's 10 Most Hated Cities yang dilansir CNNGO, menempatkan Kota Jakarta pada posisi ke-7. Jakarta dianggap sebagai kota yang kurang ramah bagi para pelancong. Adapun 10 kota paling dibenci di dunia versi anak perusahaan CNN itu adalah:

  1. Tijuana, Mexico
  2. Sydney & Melbourne
  3. Paris, Prancis
  4. Timbuktu, Mali
  5. Los Angeles, AS
  6. Lima, Peru
  7. Jakarta, Indonesia
  8. New Delhi, India
  9. Kairo Mesir
  10. Belize City
Editor :
A. Wisnubrata