IMANUEL MORE GHALE
Suhanda (32), petugas Layanan Pembersihan Saluran DPU DKI Jakarta tengah berjongkok di sisi salah satu jembatan di Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (14/6/2012). Di kolong jembatan itulah ia bermalam setiap hari.
JAKARTA, KOMPAS.com - Tak banyak orang yang tahu, gorong-gorong kali di sisi salah satu jalan utama di kawasan perkantoran Kuningan, Jakarta Selatan, menjadi tempat tinggal beberapa pekerja kebersihan kota. Dengan bayaran Rp 40.000 sehari, kontrakan paling sederhana sekalipun di Ibu Kota tak terjangkau kantong mereka.
Suhanda (32) adalah salah satunya. Bersama dua rekannya yang bekerja untuk Layanan Pembersihan Saluran DPU DKI, ia memilih tinggal di kolong jembatan di kali yang melintasi kawasan Jalan Rasuna Said. "Isteri dan anak ditinggalin di Kampung (Cibeureum, Bogor). Karena nggak ada keluarga di sini, saya mendingan tidur di sini aja biar hemat," kata Handa, sapaan Suhanda, saat ditemui di kolong jembatan di dekat Menara Imperium, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu (16/6/2012).
Tempat kerja mereka sekaligus menjadi tempat mereka beristirahat di malam hari. Dengan kemampuan finansial yang terbatas, lokasi tersebut menjadi pilihan bagi suami dari Erni (22) itu. Minimal, dia terbebas dari biaya kontrakan dan transportasi menuju tempat kerja. "Saya sudah 15 tahun kerja ginian. Sebelum kerusuhan 98 saya udah bersih-bersih kali," kata Handa.
Deraan gigitan nyamuk dan dinginnya udara malam harus bisa diatasinya. Uang Rp 40.000 sehari harus bisa disisihkan buat isteri dan seorang anaknya di Bogor. Tak heran, tawaran makan dan minum yang diberikan kerap ditampik. "Biar saya terbiasa makan dan minum secukupnya," tampik Handa saat ditawari.
Tugas Handa sehari-hari adalah menggiring sampah yang terapung di kali, mulai dari Jembatan menuju Menara Imperium hingga Waduk Setiabudi. Dengan Gethek dan sebilah bambu, saban hari ia menyusuri menggiring sampah yang ditunggui mesin pengangkut di ujung waduk.
Rekannya Abdul Malik, melakukan pekerjaan yang sama, di wilayah berbeda. Ia menggiring sampah menyusuri kawasan superblok terpadu nan mewah, Rasuna Epicentrum, hingga ke belakang gedung KPK. Tak kalah mengenaskan, ia memilih tinggal di gorong-gorong yang ada di bagian pinggiran kawasan tersebut. Sebagaimana Suhanda, ia pun meninggalkan isteri dan seorang anaknya di Bogor demi menafkahi keluarga. "Kalau tidak ada sambilan, kami nggak mungkin bisa ngongkosin keluarga," kata Abdul Malik yang memilih tinggal di salah satu gorong-gorong di kawasan Rasuna Epicentrum.
Sambilan yang dimaksud adalah adalah memungut sampah platik dan botol untuk kemudian dijual di lapak pemulung yang tak jauh dari lokasi tersebut. Botol-botol tersebut dikumpul selama 2-3 hari sebelum ditimbang di lapak. "Yah, cukup untuk tambahin ongkos dapur," kata Abdul.
Baik Suhanda maupun Abdul menyisihkan dua sampai empat hari dalam sebulan untuk bersama keluarga masing-masing. Sebisa mungkin dua kali dalam sebulan mereka meluangkan waktu untuk menemani anak dan isteri mereka. "Karena terima gajinya juga dua kali sebulan. Tapi risikonya kami kehilangan pendapatan 2-4 hari kerja yang hilang," kata Handa.
Saat ditanyai perihal masa depan keluarga dan anak mereka, kedua ayah yang masing-masing memiliki seorang anak ini memilih bungkam. Demikian pula saat ditanyakan perihal keseimbangan antara kerja dan upah yang didapatkan. "Kami hanya orang bodoh. Saya hanya sekolah sampai kelas V SD. Mana mungkin ada kerjaan yang lebih baik," kata Handa pasrah.

