Rabu, 22 Mei 2013
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 22 Mei 2013 | 16:34 WIB
Berpantun, Foke Ingatkan 11 Juli
Penulis : Kurnia Sari Aziza | Rabu, 4 Juli 2012 | 04:37 WIB
|
Share:
Berpantun, Foke Ingatkan 11 Juli KOMPAS.com/Vitalis Yogi Trisna Calon gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo (kanan) didampingi calon wakil gubernur Nachrowi Ramli berorasi dalam kampanye di GOR Soemantri Brojonegoro, Jakarta Selatan, Sabtu (30/6/2012).

JAKARTA, KOMPAS.com - "Bawa air di dalam gelas, gelas ditaruh di atas batu. Bulan Juli tanggal sebelas, jangan lupa pilih.... Satu!"

Pantun tersebut dilantunkan Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, Selasa (3/7/2012), di hadapan para guru yang tergabung dalam korps PGRI DKI Jakarta.

Calon petahana Gubernur DKI Jakarta itu menghadiri Seminar PGRI yang bertema 'Kebijakan Peningkatan Mutu Guru Menyongsong Implementasi Wajib Belajar 12 Tahun di DKI Jakarta'.

Pantun itu dilantunkan Foke, panggilan akrab Fauzi Bowo, sementara para guru yang hadir di seminar itu menyerukan kata "satu". "Nah itu yang benar, menjadikan yang terbaik nomor satu," celetuk Foke.

Lalu Foke melanjutkan, "Kalau Panwaslu ada di sini, saya tidak sedang berkampanye. Kapasitas saya di sini sebagai Gubernur DKI bukan berkampanye. Saya memakai baju ini. Kalau masih belum mengerti juga, nanti belajar lagi sama guru-guru di sini," katanya.

Dalam acara tersebut, Foke juga mengemukakan alasan dia absen pada acara Debat Cagub yang diadakan Seribu Perempuan Jakarta di Balai Kartini, Selasa. Perlu diketahui acara debat itu digelar di ruang persis di samping ruang seminar PGRI. 

"Saya minta maaf pada mereka karena tidak bisa hadir dalam acara tersebut sebagai cagub, karena cuti saya sudah selesai. Tanggal 3 dan 6 Juli, saya tetap menjadi gubernur. Saya lebih mengedepankan kepentingan masyarakat Jakarta ketimbang kampanye," jelas Foke.

Foke juga menegaskan bahwa pemerintahan yang ia pimpin bukanlah pemerintahan terburu-buru, melainkan melewati pemikiran yang matang dan mendalam.

"Hal ini tercermin dalam pengambilan kebijakan penerapan wajib belajar 12 tahun, dilaksanakan dengan persiapan matang. Kalau tidak dipersiapkan secara matang, nanti dilaksanakan terpaksa dengan urunan guru. Jadi yakinilah gubernur yang Anda pilih tidak mengambil kebijakan seperti itu di Jakarta," ujarnya.

Editor :
Kistyarini