Jumat, 24 Mei 2013
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 24 Mei 2013 | 09:39 WIB
Peremajaan Bus
Sopir Kopaja Merasa Lebih Elite
Penulis : Andy Riza Hidayat | Kamis, 5 Juli 2012 | 14:29 WIB
|
Share:
Sopir Kopaja Merasa Lebih Elite KOMPAS/ANDY RIZA HIDAYAT Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo meresmikan peremajaan bus Kopaja, di Ragunan, Jakarta Selatan, Kamis (5/7/2012).

JAKARTA, KOMPAS.com — Peremajaan bus Kopaja yang kembali berlangsung hari ini disambut positif kalangan sopir. Mereka merasa lebih elite dari biasanya. Sebab, para sopir tidak lagi bisa membuka pintu bus seenaknya.

Selain AC, bus Kopaja baru dilengkapi GPS, alat komunikasi, dan jaringan internet gratis.

Bus harus selalu tertutup karena ada alat pendingin udara. Mereka juga tidak dapat mengenakan pakaian sembarangan. Semua harus berseragam rapi.

"Sekarang kami enggak boleh pakai celana buntung (celana pendek di bawah lutut). Pakaiannya harus begini," tutur Saifullah (40), sopir bus Kopaja P 19 (Ragunan-Tanah Abang) seraya menunjukkan seragam yang dikenakan, Kamis (5/7/2012) di Ragunan, Jakarta Selatan.

Bus Kopaja baru, yang mengganti bus sebelumnya, memiliki spesifikasi unggul. Selain alat pendingin udara, bus itu dilengkapi global positioning system (GPS), alat komunikasi, dan jaringan internet gratis.

Alat GPS dipasang di dalam bus untuk mengontrol bus berada pada jalur yang benar atau tidak. Jika ada gangguan keamanan, misalnya bus dibajak dan keluar jalur, petugas di kantor Kopaja dapat mematikan mesin itu secara otomatis.

"Sebelum dimatikan mesinnya, petugas kontrol akan mengingatkan pengemudi bahwa bus keluar jalur," tutur Saifullah.

Dia sebelumnya sudah mengemudikan bus Kopaja selama 14 tahun. Dengan hadirnya bus baru, dia bangga dan merasa lebih aman di jalan. Dari 1.479 bus Kopaja, lebih dari separuh memerlukan peremajaan. Proses peremajaan berlangsung bertahap. Akhir tahun lalu manajemen Kopaja mengganti 20 bus trayek S-13 (Ragunan-Grogol).

Hari ini manajemen kembali meremajakan enam bus trayek P 19 (Ragunan-Tanah Abang) dan P 20 (Lebak Bulus-Senen).

Editor :
Marcus Suprihadi