Sabtu, 25 Mei 2013
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 25 Mei 2013 | 16:41 WIB
Perampokan
Inilah Akhir Kisah Komplotan "Tali Sepatu"
Jumat, 6 Juli 2012 | 11:19 WIB
|
Share:
Inilah Akhir Kisah Komplotan "Tali Sepatu" KOMPAS/LASTI KURNIA Barang bukti berupa senjata tajam, alat komunikasi, tali sepatu, dekoder cctv, dan lainnya yang didapat dari penangkapan kelompok perampok minimarket digelar pada jumpa pers di Polres Metro Jakarta Selatan, Kamis ((5/7/2012). Kelompok yang sempat disebut sebagai komplotan tali sepatu, tali sumbu, mengunakan tali untuk mengikat penjaga mini market. Telah merampok sebanyak 38 minimarket di Jabodetabek dan mengaku meraup Rp 800 juta.

JAKARTA, KOMPAS.com — Kisah kelompok ini sudah lama meresahkan warga Jakarta dan sekitarnya, paling tidak dalam setahun terakhir. Mereka dikenal sebagai komplotan ”tali sepatu” sebab hampir selalu mengikat korbannya dengan tali sepatu. Kisah mereka berakhir 30 jam setelah menjarah Alfamart di Jalan Bangka Raya, Jakarta Selatan, Selasa (3/7/2012) pagi.

”Sejak Januari, mereka sudah merampok 38 kali dengan mengumpulkan uang Rp 800 juta. Lokasi kejahatan mereka ada di Jakarta, Depok, Karawang, dan Tangerang,” tutur Kepala Polres Metro Jakarta Selatan Imam Sugianto, di Jakarta, Kamis (5/7/2012).

Uang hasil jarahan habis dipakai tersangka, hanya tersisa Rp 3,376 juta. Uang ini sisa dari perampokan di Jalan Bangka Raya. Ketika itu mereka menjarah uang di brankas toko dan milik pegawai senilai total Rp 46,5 juta.

Adapun cerita penangkapan komplotan tali sepatu terjadi berkat kejelian tim reserse. Setelah melakukan banyak analisis, polisi mencoba menelusuri jejak sinyal telepon seluler (ponsel) korban perampokan.

Beberapa nomor ponsel korban perampokan mati di titik yang sama, yaitu di rumah KMD (31), di Bintara Jaya, Bekasi Timur. Tanpa menunda lagi, pada Kamis dini hari polisi bergerak ke rumah KMD, kemudian membekuknya.

Dari KMD, polisi mendapatkan nama tersangka berikutnya, MHD (41), di Sumur Batu, Jakarta Pusat. Tim buru sergap terpaksa menembak MHD yang berusaha kabur dengan lari ke atas genteng ketika penyergapan. Pada waktu yang hampir bersamaan, Kamis pagi, polisi kembali meringkus tersangka berikutnya, WS (26) alias Meot, di rumahnya di Cempaka Baru, Jakarta Pusat.

KMD dan WS mengenakan penutup kepala saat berada di Markas Polres Metro Jakarta Selatan. WS bertubuh kurus dengan tinggi sekitar 155-160 sentimeter. Ketika ditanya apakah sudah lama merampok, WS menjawab, ”Baru sebelas kali.” Sementara KMD bungkam dan menyandarkan kepalanya di dinding.

Tiga orang anggota komplotan masih buron, yaitu Rudi, Amoi, dan Boni. Namun, Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Jakarta Selatan Ajun Komisaris Besar Hermawan yakin jumlah tersangka sangat mungkin bisa bertambah.

Sosok penting

Dari semua tersangka, MHD jadi sosok paling penting. Pria dengan satu anak ini merancang aksi, merekrut orang, dan menjadikan rumahnya posko operasi kejahatan. Di rumahnya, polisi menemukan 12 senjata tajam beragam jenis, tujuh topi, empat penutup wajah, dan lima masker. Di rumahnya juga ditemukan 26 ponsel yang diduga hasil rampasan korban perampokan.

”MHD biasa merekrut anggota yang lain sebelum beraksi. Salah satu anggota yang direkrut, yaitu KMD, baru dua minggu keluar dari lembaga pemasyarakatan. MHD juga yang membuat skema kejahatan dengan menggunakan tali sepatu hitam,” tutur Hermawan.

Lantaran disebut sebagai ketua, MHD berhak membagi harta hasil perampokan. Seperti hasil perampokan di Jalan Bangka, MHD juga membagi uang jarahan. Setiap pelaku mendapat Rp 2,5 juta dari total uang yang dirampok Rp 46,5 juta. Sisanya dinikmati sendiri oleh MHD.

MHD yang bertubuh gempal adalah penganggur dan pernah ditahan karena kasus narkoba. Setelah tewas tertembak, MHD dibawa petugas untuk menjalani visum di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur.

Berita penangkapan kelompok tali sepatu membuat Hakim (52), tukang parkir Alfamart di Jalan Bangka, merasa tenang. Pasalnya, ia sempat resah karena sempat dicurigai polisi dan dianggap turut berperan mempermudah terjadinya perampokan. Pasalnya, saat perampokan terjadi, dia sedang tidak di tempat. Kamis pagi itu dia pergi sebentar untuk membeli susu. ”Sudah ketangkep rupanya, syukurlah, saya tidak lagi bingung. Ingin sekali saya melihat mereka. Kok tahu pas saya tidak jaga mereka masuk (merampok),” katanya. (Andy Riza Hidayat)

Editor :
Hertanto Soebijoto