Kamis, 24 April 2014

News / Megapolitan

John Kei: Siapa yang Preman? Polisi!

Rabu, 11 Juli 2012 | 00:25 WIB

Baca juga

JAKARTA, KOMPAS.com — John Refra Kei, tersangka kasus pembunuhan berencana terhadap bos PT Sanex Steel Indonesia (SSI), Tan Harry Tantono alias Ayung (45), akhirnya tiba di Mapolda Metro Jaya pada Selasa (10/7/2012) pukul 23.35. John tiba dengan pengawalan pasukan Brimob bermotor yang dilengkapi senjata api laras panjang.

Sementara itu, John keluar dari sebuah Toyota Kijang Innova warna hitam didampingi oleh tim kuasa hukumnya, Tito Refra Kei dan Tofik Chandra. Sesaat sebelum memasuki gedung tahanan Ditresnarkoba Polda Metro Jaya, John Kei sempat menghentikan langkahnya.

"Ayo mau tanya apa?" tantang John yang ketika itu menggunakan kaus merah, topi hijau, dan berkacamata hitam itu. Saat ditanyakan tentang kesiapan menjalani proses hukum selanjutnya, John Kei menyatakan bahwa dia menaati hukum.

"John Kei menaati undang-undang. Sekarang siapa yang preman?" tukas pria kelahiran Tual, Ambon, ini.

John Kei yang mengaku dalam keadaan bugar setelah sempat menjalani perawatan di RS Polri itu pun kembali bersuara dengan lantang. "Yang preman itu polisi," teriaknya.

John pun kemudian melenggang masuk ke dalam gedung tahanan sambil menghentakkan kaki seolah menandakan kaki bekas luka tembaknya baik-baik saja. Sambil menghentakkan kaki, John Kei lalu mengepalkan tangan sambil berteriak, "Merdeka!"

Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta sebelumnya telah menyatakan berkas perkara John Kei bersama dua tersangka lainnya, yakni Mukhlis dan Yosep Hungan, lengkap. Untuk selanjutnya, penyidik melakukan pelimpahan tahap kedua, yakni pelimpahan tersangka dan barang bukti kepada Kejati DKI yang akan dilakukan besok, Rabu (11/7/2012).

John Kei ditangkap oleh aparat Polda Metro Jaya sejak tanggal 17 Februari 2012 di Hotel C'One, Pulomas, Jakarta Timur. Polisi sempat menembak betis bagian kanan John Kei saat berusaha melarikan diri ketika digerebek aparat kepolisian di sebuah kamar di hotel itu.

Semenjak ditahan, masa penahanan John Kei terus diperpanjang sebanyak tiga kali hingga akhirnya menempuh batas maksimal yakni 120 hari masa penahanan dalam proses penyidikan. Penahanan John Kei juga sempat dibantarkan pada masa awal penahanan.

Lamanya penahanan John Kei ini lantaran polisi masih belum mendapatkan persetujuan berkas lengkap (P-21) dari pihak Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta. Penahanan terhadap John Kei ini terkait dengan kasus pembunuhan berencana terhadap pengusaha peleburan besi PT Sanex Steel Indonesia, Tan Harry Tantono alia Ayung.

Polisi menduga John Kei yang merupakan teman dekat Ayung ini menginstruksikan pembunuhan itu kepada anak buahnya di kamar Swisbel Hotel, Sawah Besar, Jakarta Pusat. Ayung pun tewas akibat pendarahan hebat dari luka tusuk bagian perut, pinggang, dan leher.

Pada kasus ini, polisi juga menahan tujuh orang lainnya yang merupakan anak buah John Kei, yakni Chandra Kei, Ancola Kei, Tuce Kei, Dani Res, Kupra, Yosep Hungan, dan Mukhlis. Berdasarkan pengakuan para tersangka, pembunuhan terhadap Ayung dilakukan karena pengusaha asal Surabaya, Jawa Timur, itu berjanji akan membayarkan upah Rp 600 juta atas jasa penagihan utang (debt collector) kelompok John Kei.

Namun, motif pembunuhan berencana itu kemudian berkembang seiring perkembangan penyidikan. Dari hasil penyidikan polisi, muncul lagi dugaan motif perebutan saham PT Sanex Steel Indonesia antara John Kei dan Ayung.


Penulis: Sabrina Asril
Editor : Aloysius Gonsaga Angi Ebo