Kamis, 24 April 2014

News / Megapolitan

"Pasukan Infanteri" di Balik Kemenangan Jokowi-Ahok

Sabtu, 14 Juli 2012 | 08:42 WIB

Baca juga

JAKARTA, KOMPAS.com — Tanpa diduga, pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta, Jokowi-Ahok, berhasil meraih suara terbanyak dalam putaran pertama Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta 2012. Kemenangan Jokowi terbilang mengejutkan karena selama ini hasil survei selalu menempatkan kandidat nomor urut 3 itu di posisi kedua setelah Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli.

Apa rahasia di balik kesuksesan Jokowi-Ahok? Kedua kandidat dengan latar belakang berbeda itu sengaja menyewa jasa konsultan politik dalam menyiapkan strategi kampanye. Salah satunya adalah Cyrus Network.

Direktur Eksekutif Cyrus Network, Hasan Nasbi, mengatakan, kekuatan kampanye Jokowi-Ahok ada pada "serangan darat". Serangan darat merujuk pada taktik kampanye yang langsung bertemu dengan pemilih melalui jaringan-jaringan yang dimiliki Jokowi-Ahok. "Kami menamakan para pejuang di serangan darat ini sebagai pasukan infanteri. Sudah 15.000 relawan yang kami latih untuk menyosialisasikan program Jokowi-Ahok," kata Hasan, Jumat (13/7/2012), saat dihubungi wartawan.

Dia menjelaskan, sebanyak 15.000 relawan itu dilatih dalam mempresentasikan program-program Jokowi dengan cara yang lebih dekat kepada pemilih. Setiap relawan bertanggung jawab pada 100-150 rumah di setiap tempat pemungutan suara (TPS). Semua relawan di sebar ke setiap wilayah di Jakarta. "Tidak ada pengonsentrasian wilayah karena kami pikir Jakarta itu harus sapu bersih semua wilayah," ujar Hasan.

Relawan-relawan yang dimiliki Jokowi-Ahok juga terbilang kreatif karena diisi anak-anak muda. Mereka sendiri yang berniat bergabung untuk sekadar membantu penjualan baju kotak-kotak khas Jokowi hingga membantu media sosialisasi.

Hasan menilai, kampanye dalam bentuk serangan udara, seperti spanduk, baliho, hingga iklan di media massa, sebenarnya hanya untuk formalitas. Kekuatan utama dari Jokowi bukan terletak pada iklan-iklan tersebut. "Di iklan, Jokowi tidak bisa menampilkan program-programnya secara lengkap, tetapi melalui pasukan infanteri itu bisa disebarkan visi-misi secara lengkap," pungkas Hasan.

Berdasarkan hasil hitung cepat Litbang Kompas, Pilkada DKI Jakarta dipastikan akan berlangsung dua putaran karena tidak ada calon yang berhasil meraih 50 persen + 1 suara. Pada putaran pertama, dua pasangan calon yang lolos ke putaran berikutnya adalah Jokowi-Ahok dengan 42,59 persen suara dan Foke-Nara dengan 34,32 persen suara. Perolehan suara selanjutnya diikuti oleh Hidayat-Didik dengan 11,4 persen, Faisal-Biem 5,07 persen, Alex-Nono 4,74 persen, dan Hendardji-Riza 1,88 persen.


Penulis: Sabrina Asril
Editor : Erlangga Djumena