Politisi Demokrat Anggap Wajar Kemacetan di Jakarta
- Penulis :
- Sandro Gatra
- Kamis, 19 Juli 2012 | 11:43 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Wakil Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Herman Khaeron menganggap wajar masalah kemacetan di DKI Jakarta. Menurut Ketua DPP Partai Demokrat itu, kemacetan juga terjadi di kota-kota besar di negara lain.
"Kemacetan adalah keniscayaan kota besar. Ini disebabkan tumbuhnya pengguna jalan jauh lebih besar dari tersedianya jalan baru. Saya dapat membandingkannya dengan kondisi di luar negeri bahwa di kota-kota sekelas ibu kota memang kemacetan adalah keniscayaan," kata Herman melalui pesan singkat, Kamis (18/7/2012).
Mengenai masalah banjir, Herman mengklaim, selama Fauzi Bowo menjabat Gubernur DKI Jakarta, sebanyak 2,5 juta warga Ibu Kota dapat diselamatkan dari musibah banjir berkat pembangunan Kanal Banjir Timur. Selain itu, dia menilai sungai-sungai di Jakarta, yang sudah 30 tahun belum pernah "disentuh", telah dinormalisasi.
"Sungguh besar perhatian Foke kepada rakyat miskin di DKI. Telah tersedianya rumah sewa susun murah bagi nelayan dan masyarakat penghuni kawasan kumuh, wajib belajar 12 tahun yang setiap pelajar disubsidi oleh APBD melebihi besaran dari BOS, program koperasi kelurahan. Selain itu, alokasi anggaran pembangunan termasuk membangun kawasan wisata agro yang sekarang ada di eks lapangan golf Ancol," kata Herman.
Prestasi Foke lainnya, lanjut Herman, berupa meningkatnya ketersediaan hutan kota dari 7 persen menjadi 10 persen. Selain itu, pengelolaan sampah menjadi kompos, berjalannya program pangan lestari, dan lainnya.
Herman menolak anggapan bahwa anggota Dewan Pembina Demokrat itu tidak dekat dengan warga Jakarta. Ia mengatakan, Foke berkantor di kantor kelurahan setiap Jumat, melakukan gerakan "Sabtu Bersih" setiap hari Sabtu, dan senam bersama warga pada Minggu. Selain itu, ketika melakukan penertiban kawasan tertentu, Foke juga melakukan pendekatan kepada warga.
"Tentunya sebagai manusia memang tidak sempurna. Banyaknya kritik adalah hal yang wajar dan perlu diperhatikan. Namun, kita juga harus menghargai keberhasilannya dan berilah pujian atas keberhasilan itu. Sebaiknya Foke diberi kesempatan jabatan kedua kalinya untuk menyelesaikan berbagai programnya yang kami nilai sangat bagus," ujar Herman.
Dalam proses hitung cepat oleh beberapa lembaga survei terhadap pemungutan suara Pilkada DKI Jakarta pada 11 Juli 2012, pasangan Foke dan calon wakil gubernur Nachrowi Ramli diperkirakan bakal bertarung dengan duet Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama pada putaran kedua Pilkada DKI Jakarta, September 2012. Di putaran pertama, perolehan suara Foke-Nara berada di posisi kedua berdasarkan hitung cepat.