Saya Tak Menyangka Anak Saya Pembunuh...

  • Penulis :
  • Fabian Januarius Kuwado
  • Minggu, 22 Juli 2012 | 16:35 WIB
Arfah (51), ibu dari A, remaja pelaku pembunuhan ayah-anak, tampak terduduk lesu di rumahnya, Rt 05 Rw 08, Pasir Putih, Depok, Jawa Barat. Ia tak menyangka putera ketiganya terlibat ksenario pembunuhan yang mengerikan. | Fabian Januarius Kuwado

JAKARTA, KOMPAS.com — Sumarno (49) bisa berlega hati. Rabu (18/7/2012) siang tadi, suami dari Arfah (51), warga RT 5 RW 7, Pasir Putih, Depok, Jawa Barat, itu, mendapat obyekan menggali sumur di rumah tetangganya. Hati pria yang sehari-hari bekerja serabutan ini bersyukur, asap dapurnya mengepul kembali.

Saya sama sekali enggak nyangka anak saya pembunuh.
-- Sumarno

Selesai mengerjakan obyekannya, ia kembali ke gubuk sederhananya sekitar pukul 17.00 WIB. Tak ada yang aneh pada hari itu, semua berjalan seperti biasa. Hingga ia lelah seharian bekerja, Sumarno memutuskan tidur setelah mandi dan makan malam.

Seperti biasa, ia tidur beralaskan tikar bersama istri dan kedua anaknya yang masih kecil. Tiga anaknya yang lain, entah mengadu nasib di mana.

Pada Kamis (19/7/2012), lewat tengah malam, sekitar pukul 02.00 WIB, sendi-sendi tubuhnya tersontak mendengar keributan di dalam rumahnya.

"Tahu-tahu polisi sudah berjejer. Salah satu ada yang teriak, A? (Adi), anak saya jawab, ya. Ya sudah, anak saya yang ternyata tidur di samping saya langsung diambil. Saya masih enggak ngerti, ada apa ini," ujarnya saat ditemui Kompas.com di rumah sederhananya itu, Minggu (22/7/2012).

Pikiran pria berdarah campuran Sunda-Jawa Tengah itu kalut. Sedetik kemudian, pikirannya pun melayang ke hari Rabu ke belakang.

Sekitar pukul 21.00 WIB, anak ketiganya, A, datang ke rumahnya bersama D, pria yang dikenalnya sebagai bos rongsokan, tempat A bekerja. Saat itu, tak banyak kalimat keluar dari mulut keduanya. Yang ia lihat, D datang membawa tas jinjing berwarna hitam. Keduanya pun berpamitan untuk pergi bekerja di lapak rongsok daerah Nanggela, Bogor, Jawa Barat.

"Tidak tahu kenapa, saya yakin pasti gara-gara si D nih. Waktu saya tanya polisi, dia menenangkan saya. Dia bilang, ini cuma tanya masalah motor, Bapak tenang saja," lanjutnya, menceritakan perbincanganya dengan polisi pada Kamis dini hari itu.

Ketika duduk di bangku ruang penyidik Unit Reserse Kriminal Polsek Bojong Gede, ia baru tak kuasa menahan kesedihannya. Sebagai orangtua, Sumarno baru mengetahui, anaknya adalah seorang pembunuh. Dirinya baru sadar, pada Rabu malam itu, saat anaknya pamit ke lapak kerjanya, ia berbelok ke sebuah rumah di Kompleks Satria Jingga, Blok F1, No 11 RT 03 RW 14, Desa Raga Jaya, Bojong Gede, Kabupaten Bogor.

"Saya biar cuma tukang gali sumur, enggak pernah ngajarin anak saya begitu," kata Sumarno.

Air mata yang sejak tadi tertahan pun tumpah membasahi mata kakinya yang duduk bersila.

"Saya sama sekali enggak nyangka anak saya pembunuh," lanjutnya.

Pasrah

A merupakan anak ketiga dari lima bersaudara. Dua kakaknya tidak tinggal bersama karena merantau, sementara A sendiri hanya sesekali pulang untuk sekadar mandi dan ganti baju. Hanya dua adiknya yang masih kecil tinggal bersamanya.

Untuk hidup sehari-hari, Sumarno hanya mengandalkan orang yang sedang membangun rumah atau menggali sumur agar ia bisa bekerja. Istrinya pun hanya mengurus kedua anaknya yang masih kecil. Kini, dirinya hanya bisa pasrah menghadapi cobaan hidupnya.

Ia pernah mendengar selenting kabar, anak di bawah umur mendapat hukuman lebih ringan. Meski tak mengerti hukum, ia berharap hal tersebut benar-benar terjadi pada putranya yang hanya lulusan kelas dua sekolah dasar tersebut.

"Saya yakin anak saya dipengaruhi si D," lanjut Sumarno.

Seperti diberitakan sebelumnya, pembunuhan sadis terjadi di sebuah rumah di Kompleks Satria Jingga, Blok F1, No 11 RT 03 RW 14, Desa Raga Jaya, Kecamatan Bojong Gede, Bogor, Rabu (18/7/2012) pukul 12.00 lalu. Seorang ayah dan anaknya tewas di dalam kamar mandi dengan luka sayat di bagian leher. Korban tewas itu adalah Jordan Raturomon (50) dan anaknya, Edward Raturomon (22). Keduanya ditemukan oleh anak bungsu korban, Kezia Raturomon.

Saat itu, Kezia menemukan ayah dan kakaknya tergeletak di dalam kamar mandi dalam kondisi tidak bernyawa. Baik Jordan maupun Edward menderita luka sayatan di bagian leher dan luka memar di bagian kepala. Seusai membunuh, pelaku juga mengambil sejumlah harta benda milik korban, seperti uang tunai Rp 10 juta, perhiasan, dan sepeda motor.

Tak sampai sehari, tim gabungan Polresta Depok dan Polsek Bojong Gede membekuk empat pelaku, yakni AD (14), KS (25), PP (35), dan DD (20). Sementara satu orang lainnya, yakni D, masih buron.

Dari para tersangka diketahui, pembunuhan itu sudah disiapkan sejak seminggu lalu. Mereka tega menghabisi nyawa Jordan karena tidak terima terus-menerus ditagih utang oleh Jordan. Anaknya, Edward, juga terpaksa dibunuh karena mengetahui peristiwa itu.

Editor : Latief

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined property: stdClass::$quiz

Filename: views/read-article-alt2.php

Line Number: 253

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined property: stdClass::$view_quiz

Filename: views/read-article-alt2.php

Line Number: 256

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Pembunuhan di Bojong Gede
Saya Tak Menyangka Anak Saya Pembunuh... - Kompas.com
Minggu, 22 Juli 2012

News

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: fopen(application/logs/komps_log.php) [function.fopen]: failed to open stream: Permission denied

Filename: libraries/kompas_lib.php

Line Number: 64

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: fwrite(): supplied argument is not a valid stream resource

Filename: libraries/kompas_lib.php

Line Number: 66

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: fclose(): supplied argument is not a valid stream resource

Filename: libraries/kompas_lib.php

Line Number: 67

[x] close