Kamis, 28 Agustus 2014

News /

PANGAN

Kedelai di Pasar Bebas

Rabu, 25 Juli 2012 | 03:41 WIB

Ketika para perajin tahu dan tempe berteriak soal harga kedelai yang melambung, sesungguhnya itu gambaran mengenai kondisi pangan kita. Kedelai menjadi alarm bagi kita untuk lebih serius mengurusi kebutuhan pokok, bukan malah bergantung pada impor.

Urusan kedelai ini hanyalah satu bukti bahwa komoditas pertanian yang dilepas berhadapan dengan pasar bebas akan memunculkan masalah. Apabila dibiarkan, hanyalah tinggal menunggu waktu kedelai hilang dari pasar dan diganti sepenuhnya dengan komoditas impor.

Upaya-upaya pemerintah sesungguhnya sudah ada, dari penerapan bea masuk sampai riset benih unggul. Kerja keras pemerintah itu diharapkan bisa meningkatkan kemampuan komoditas dalam negeri untuk bertarung di pasar bebas. Akan tetapi, kerja keras itu belum cukup. Kerja lebih keras ternyata masih dibutuhkan.

Persoalannya adalah komitmen pemerintah untuk benar-benar melindungi komoditas penting di dalam negeri itu. Hingga sekarang masih ada keengganan untuk melindungi pasar di dalam negeri dan juga kadang ketakutan untuk melindungi komoditas di dalam negeri karena khawatir berhadapan dengan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Zaman Orde Baru sebenarnya sudah ada sistem bagi perajin tahu dan tempe untuk mendapatkan kedelai. Petani kedelai di dalam negeri juga mendapat insentif yang memadai. Ada koperasi yang kuat dan ada Bulog yang menjadi penyangga pasokan kedelai. Gejolak harga relatif jarang terjadi. Akan tetapi, komoditas-komoditas pokok memang mudah sekali diselewengkan. Perdagangan komoditas ini mudah diarahkan untuk kepentingan segelintir orang dan kelompok. Sistem yang sudah dibuat pada masa itu kini hilang.

Ketidakpercayaan terhadap koperasi dan peran Bulog menjadi sumber sistem itu rusak dari dalam. Sangat wajar apabila banyak pihak menuntut pembubaran sistem itu karena kadang digunakan untuk keperluan di luar urusan perdagangan kedelai. Ketika kita akan mengembalikan sistem ini, hal yang terjadi adalah keraguan untuk mengembalikan sistem itu. Kita ragu karena persoalan transparansi belum bisa dijalankan sepenuhnya.

Kasus gejolak harga kedelai di Amerika Serikat yang langsung berdampak ke dalam negeri hanyalah satu contoh betapa gejolak di satu tempat akan langsung mengenai kita. Tanpa menunggu waktu, ketika kekeringan melanda Amerika Serikat dan harga kedelai naik, kita langsung merasakannya. Inilah konsekuensi komoditas yang dilepas ke pasar bebas. Komoditas lain, seperti daging sapi, beras, dan jagung, juga akan bernasib sama. Padahal, di semua komoditas itu, pemerintah harus memiliki stok dan mengendalikannya.

Kita akan mudah diguncang oleh gejolak harga di negara lain sepanjang kita tergantung pada komoditas impor. Kasus kedelai sangat boleh menjadi awal dari masalah pangan yang besar. Krisis pangan sangat mungkin merupakan masalah lebih besar yang akan muncul apabila kita terus-menerus bergantung pada pangan impor. (ANDREAS MARYOTO)


Editor :