Fabian Januarius Kuwado
Sumadi, salah seorang pedagang warung makanan terpaksa mengolah bahan makanan tempe menjadi bacem. Hal tersebut dilakukan setelah tempe dan tahu langka di pasaran.
JAKARTA, KOMPAS.com — Akibat mogok produksi oleh perajin tempe dan tahu di sebagian besar wilayah Jawa, salah satu menu favorit keluarga Indonesia tersebut hilang di pasaran. Kondisi ini terjadi di Pasar Inpres Kramat Jati, Jakarta Timur.
Berdasarkan pantauan Kompas.com, Rabu (25/7/2012), sejumlah lapak pedagang tempe dan tahu di pasar tersebut terlihat sepi penjual. Di beberapa lapak bahkan tampak diisi oleh pedagang jenis komoditas lain, misalnya ayam potong dan kelapa.
Salah seorang pedagang, Usup (30), mengungkapkan, para pedagang tahu dan tempe tidak berjualan setelah ada pemberitahuan dari para perajin tempe dan tahu atas adanya mogok produksi hingga Jumat mendatang. Mogok produksi tersebut merupakan respons atas kenaikan harga kedelai di Indonesia.
"Semalam ada 50 orang datang, ada pemberitahuan enggak boleh dagang kepada pedagang tempe dan tahu di sini, soalnya buat solidaritas mereka," ujarnya.
Kelangkaan tempe dan tahu tersebut mengecewakan sebagian besar konsumen. Salah satunya adalah Sumadi (42), salah seorang pedagang warung makanan di Pasar Inpres Kramat Jati. Selama 20 tahun lebih ia berdagang, baru kali ini salah satu menu kesukaan pengunjungnya tersebut sulit didapat. "Ini saja tempe yang dibeli kemarin, dibuat bacem supaya bisa tahan paling enggak dua harilah. Biasanya kan yang langka daging. Ini tempe. Kan aneh, Mas," ujarnya.
Hal senada juga diungkapkan L Karim Rimadi (35). Ia heran, mengapa menu selera Nusantara tersebut bisa hilang dari pasaran hanya karena harga kedelai impor ke Indonesia naik. Ia mempertanyakan kerja pemerintah dari segi produksi kedelai dalam negeri. "Ya heran saja, pemerintahlah itu enggak beres. Semestinya mereka bisa buat pro terhadap rakyat. Kan mereka yang pegang otoritas negara ini, harusnya bisa mengatur harga," kata Rimadi.
Sebagai penggemar tempe dan tahu, Rimadi menilai kelangkaan kedua barang konsumsi tersebut cukup berpengaruh bagi dirinya dan keluarga. Karena kelangkaan itu, pilihan menu di rumah, terlebih makanan murah dan sehat, menjadi berkurang.
Pendapat berbeda disampaikan oleh Rini Murbaningsih (28). Ibu satu anak tersebut mengaku tak khawatir dengan hilangnya tempe dan tahu di meja makannya. "Enggak begitu ngaruh sih, kan ada menu lainnya," ujarnya. Meski demikian, ia tetap mempertanyakan peran pemerintah dalam melakukan proteksi komoditas pangan dalam negeri, khususnya dalam meningkatkan produksi kedelai lokal. Menurutnya, jika biaya untuk meningkatkan produksi lebih besar dari impor, ia sepakat dengan pemerintah.
"Tapi kalau memang kebijakannya enggak jelas alasannya, ya saya enggak setuju harga kedelai naik. Saya pernah dengar, pengusaha tahu-tempe lebih suka kualitas kedelai impor," ujarnya.
Selain melakukan mogok produksi hingga Jumat, para perajin tempe dan tahu berencana menaikkan harga kedua produk itu dari semula Rp 6.000 menjadi Rp 8.000. Para perajin berharap pemerintah menghapus bea impor kedelai yang semula 5 persen menjadi 0 persen.

