ADI DWIJAYADI
Ilustrasi
JAKARTA, KOMPAS.com - Bersama pengemis dan gelandangan, manusia gerobak digolongkan sebagai tuna wisma yang menjadi salah satu target operasi Dinas Sosial dan bagian Trantib Pemerintah DKI Jakarta jelang Lebaran. Pasalnya, kehadiran pengemis dan gelandangan dadakan dalam jumlah besar selama bulan Ramadhan dianggap mengganggu ketentraman dan kenyamanan umum.
Sehubungan dengan itu, beberapa "manusia gerobak" yang sudah bertahun-tahun berprofesi sebagai pengumpul barang bekas dan pengangkut sampah mengaku cemas. "Tolong bedakan kami dari gerobak musiman. Kalau kami, udah bertahun-tahun berkeringat dan cari makan di Jakarta dengan mendorong gerobak," kata Sapardi (68), "manusia gerobak" yang sering beroperasi di kawasan Jalan Otista Raya, Jakarta Timur, saat ditemui Kompas.com, Rabu (25/7/2012).
Pardi telah lama dikenal warga seputaran Cawang Kavling, Kebon Nanas, Polonia, Pedati, dan Otista sebagai pengumpul barang bekas. Sejak tahun 1998, pria asal Purwokerto, Jawa Tengah ini telah aktif mengelilingi kawasan tersebut mengumpulkan barang rongsokan. "Kalau yang tua-tua dan orang lama udah pada kenal. Malah sering disapa sama mereka," kata Pardi.
Mendorong gerobak selama berjam-jam membutuhkan stamina ekstra. Hal itu masih terus dijalaninya hingga usia yang tak muda lagi. Karena itu, ia berharap petugas Satpol PP dan Dinas Sosial tidak asal ciduk. Mereka yang memang bermata pencaharian sebagai pengumpul rongsokan harus dibedakan dari pendatang musiman yang muncul menjelang Lebaran hanya untuk memanfaatkan momen orang bersedekah.
"Rejeki kami banyak berkurang karena muncul banyak pesaing selama Ramadhan. Dari 40-50 ribu (rupiah) sehari bisa hanya 20-25 ribu. Jangan kami dikejar-kejar lagi," keluh Pardi.
Jamil (47), pengumpul rongsokan di wilayah Jalan Dewi Sartika hingga ke Cawang-UKI, punya alasan lain. Menurut bapak dua anak itu, pengumpul rongsokan asli biasanya sudah akrab dan dipercayai warga. Sehingga, walaupun mereka beroperasi sampai jauh malam, warga tidak merasa terganggu.
"Udah bertahun-tahun kami di sini, warga nggak pernah ngeluh ada barang yang hilang. Beda sama yang musiman, orangnya "meleng" dikit, barangnya pasti hilang. Emang niatnya begitu," kata Jamil.
Jamil mengaku memiliki kontrakan. Keinginan untuk beristirahat di rumah selalu ada dalam diri Jamil dan isterinya. Namun, karena gerobaknya seringkali sudah dalam keadaan penuh di sore atau malam hari, ia mengaku kesulitan untuk menariknya hingga ke kontrakan di pinggiran Ciliwung.
"Apalagi, dua anak saya maunya ikut nangkring di atas (gerobak). Jadi berat banget kalau harus dorong sampai ke sana. Apalagi, jalan biasanya macet banget pas sore sampai jam 9 malam. Kita bisa dimaki-maki sama yang naik motor karena ngalangin jalan mereka," ujar pria bertubuh kurus itu.
Hal yang sama diakui Pardi. Muatan penuh barang dan kemacetan jalan raya menjadi alasan ia memutuskan untuk tidur di pelataran toko atau di depan rumah penduduk daripada harus balik ke kosnya di Jalan Kebon Nanas.
"Pernah tujuh bulan saya tidur sama isteri di sini, nggak pulang-pulang ke kos. Nyeberang jalan aja udah susah," kata suami dari Tasmui (75).
Baik Pardi maupun Jamil berharap, sebelum melakukan pencidukan, pihak tramtib mengecek ke warga sekitar soal keberadaan "manusia-manusia gerobak". Jika warga sekitar tidak mengenal pendorong gerobak berarti orang tersebut terhitung pendatang musiman. Sedangkan, orang yang sudah dikenal warga seperti Pardi dan Jamil adalah benar-benar mencari nafkah dari pengumpulan barang rongsokan.
