Jumat, 25 Juli 2014

News /

TAJUK RENCANA

Sabtu, 28 Juli 2012 | 04:10 WIB

Anarkisme di Gerbang  Tol

Tindakan anarkis terjadi di gerbang Tol Jatibening (Bekasi), Jumat. Massa marah kepada Jasa Marga yang menutup terminal bayangan ilegal.

Gerbang tol diblokade massa. Mobil operasional Jasa Marga dibakar. Akibatnya, kemacetan panjang terjadi. Lalu lintas menuju Jakarta dari arah Bekasi tersendat dan terhambat beberapa jam. Aksi itu terlambat diantisipasi pihak kepolisian. Menurut Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto, sebagaimana dikutip portal Kompas.com, pihak kepolisian mengaku tidak mengetahui rencana Jasa Marga menutup terminal bayangan pada Kamis malam yang mendapat reaksi kemarahan dari massa.

Langkah Jasa Marga menertibkan terminal bayangan sebenarnya punya landasan hukum. Jasa Marga punya kewajiban melancarkan jalan tol. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2005 melarang adanya terminal bayangan di jalan tol. Terminal jalanan di sekitar Jatibening sudah lama berlangsung dan dibiarkan.

Akibatnya, terminal bayangan itu menghidupkan perekonomian warga sekitar. Warung kaki lima tumbuh, tukang ojek pun mencari penumpang di kawasan tersebut. Warga pun sudah terbiasa naik dan turun dari angkutan umum di terminal bayangan tersebut. Banyak pihak mendapatkan kehidupan dari terminal bayangan itu. Namun, kehadiran terminal bayangan pun mengakibatkan kemacetan lalu lintas.

Pembiaran kehadiran terminal bayangan—yang sebenarnya ilegal—baik oleh Jasa Marga maupun pemerintah itulah yang mengakibatkan munculnya pemahaman banyak pihak bahwa terminal bayangan itu adalah legal. Bahkan, Wali Kota Bekasi Rahmad Effendi menginginkan agar terminal bayangan tetap dibiarkan karena bermanfaat bagi warga sekitar.

Kita menyesalkan terjadinya tindakan anarkistis tersebut. Akibat aksi itu, Jasa Marga untuk sementara mengurungkan niat menegakkan aturan. Jasa Marga sepakat untuk sementara terminal bayangan dibiarkan, sampai kemudian Jasa Marga membuat rest area (tempat peristirahatan). Meski demikian, kita berpendapat, aksi anarkistis itu tak bisa dibenarkan. Hukum harus ditegakkan agar kasus tersebut tak dijadikan preseden di tempat lain.

Karena pembiaran yang begitu lama terhadap eksistensi terminal bayangan ilegal, Jasa Marga dan Pemerintah Kota Bekasi harus aktif menjalin komunikasi dengan warga. Komunikasi dimaksudkan agar bisa tercapai kompromi untuk menyelesaikan masalah yang ada.

Dalam upaya itu, Pemerintah Kota Bekasi juga harus aktif menjalankan peran untuk memfasilitasi dan memediasi kepentingan warga, kepentingan pengusaha otobus, serta kepentingan Jasa Marga. Namun, solusi itu harus tetap didasarkan pada hukum atau aturan dan bukan malah aturan atau hukum dikesampingkan karena kondisi riil kemasyarakatan.

Olimpiade, Ingin Lebih Tinggi

Upacara pembukaan olimpiade modern selalu saja meriah. Itu pula yang dirasakan dalam Olimpiade 2012 yang dibuka Jumat malam di London.

Kota London seolah disulap menjadi panggung raksasa yang mendapat sorotan dunia. Seremoni pembukaan olimpiade melibatkan sekitar 15.000 penari, musisi, dan pendukung lainnya, ditambah 3.500 pelajar.

Dunia seperti disatukan dalam antusiasme menyambut pesta olahraga yang berlangsung 27 Juli sampai 12 Agustus itu meski Eropa sedang dilanda krisis keuangan. Sebanyak 205 kontingen negara peserta, termasuk Indonesia, berlaga dalam olimpiade.

Setiap olimpiade, termasuk Olimpiade 2012, selalu membawa pesan perdamaian, solidaritas, persahabatan, dan sportivitas. Sudah menjadi klasik pula moto olimpiade: citius, altius, fortius (lebih cepat, lebih tinggi, lebih kuat). Pada dasarnya juga manusia senantiasa bertekad semper citius, semper altius, semper fortis (selalu ingin lebih cepat, selalu ingin lebih tinggi, dan selalu ingin lebih kuat).

Jika tidak ada keinginan lebih tinggi, lebih cepat, dan lebih kuat, peluang untuk menggapai kemajuan dan kemenangan akan kecil, bahkan tertutup. Tidak kalah penting bagaimana cara menuju kemenangan itu. Tujuan dan cara sama-sama penting dalam olahraga atau olimpiade. Tujuan tidak bisa menghalalkan cara. Bahkan, dalam olahraga cara atau sportivitas jauh lebih penting daripada tujuan.

Agar menjadi lebih tinggi, lebih cepat, dan lebih kuat, sangat dibutuhkan ketekunan, keuletan, kerja keras, disiplin, dan kesabaran. Segala pencapaian tidaklah seketika, bukan seperti membalikkan telapak tangan. Sekalipun sudah mempersiapkan diri, setiap pertandingan selalu menghasilkan kubu yang menang dan kalah.

Sangatlah diperlukan sikap menerima kekalahan dan mengakui kemenangan lawan. Sikap sportivitas macam itu baru bisa tumbuh dan berkembang jika memiliki pemahaman bahwa setiap pertandingan dalam olahraga bukanlah titik akhir, melainkan justru mendorong kompetisi dan pertandingan berikutnya.

Begitu juga kemenangan dan kekalahan dalam olahraga bukanlah sesuatu yang tertutup rapat, tetapi setiap kali bisa dibongkar. Pertandingan pertama bisa menang, tetapi berikutnya bisa kalah. Atas dasar itu, kemenangan tidak boleh melahirkan euforia berlebihan dan mendorong semangat triumphalist yang membuat lupa diri.

Sebaliknya juga, negara atau bangsa yang gagal belajar dari kekalahan dan tidak bisa bangkit dari kelemahan akan menjadi bangsa pecundang. Kemajuan dalam bidang olahraga, yang ditopang oleh kemajuan dalam bidang lain, akan menaikkan citra sebuah bangsa. Sebaliknya, kedodoran dalam bidang olahraga dan bidang kehidupan lainnya hanya membuat sebuah negara dipandang dengan sebelah mata dalam pergaulan masyarakat dunia.


Editor :