Minggu, 20 April 2014

News /

Penyerbuan Aleppo Dimulai

Minggu, 29 Juli 2012 | 02:47 WIB

Baca juga

ALEPPO, SABTU - Pertempuran penentuan untuk menguasai kota Aleppo di Suriah dimulai dengan serangan fajar tentara pemerintah terhadap barisan pasukan oposisi, Sabtu (28/7) subuh. Tentara pemerintah dilengkapi senjata berat, sementara oposisi didukung pasukan milisi asing.

Pukul 04.00, saat seharusnya umat Muslim di Aleppo menyelesaikan makan sahur sebagai persiapan puasa Ramadhan hari itu, empat helikopter rezim Bashar al-Assad mulai mengobarkan pertempuran dengan meluncurkan peluru-peluru roket.

Kegelapan yang masih menyelimuti Distrik Salaheddin—tempat pasukan oposisi bertahan—seketika sirna setelah empat gedung serentak membara dalam waktu cepat terkena roket-roket tersebut. Suara ledakan roket, peluru artileri, dan tembakan senapan mesin bersahutan, mengoyak kedamaian subuh itu.

”Pertempuran dimulai pukul 04.00 dan 8 jam kemudian suasananya masih seperti di neraka. Ini benar-benar gila,” kata koresponden Agence France- Presse (AFP) di Aleppo.

Tank-tank dan meriam-meriam pasukan pemerintah, yang telah dikumpulkan dalam beberapa hari terakhir ini turut mengepung dan membombardir Distrik Salaheddin. Pertempuran tak seimbang pun terjadi karena pasukan oposisi hanya mengandalkan senjata ringan, seperti senapan mesin dan beberapa roket peluncur granat (RPG)

Namun, kemurkaan pasukan Assad itu tidak dibiarkan berlangsung tanpa perlawanan.

Di Distrik Hamdaniyeh, tempat koresponden AFP itu berada, oposisi memukul mundur tentara rezim. Di jalanan terlihat tiga bangkai tank pemerintah yang baru saja dihancurkan. Jenazah 6 tentara pemerintah dan 4 prajurit oposisi bergelimpangan di dekatnya.

Milisi asing

Tentara Pembebasan Suriah (FSA), yang menjadi kelompok perlawanan militer utama dari pihak oposisi selama ini, mendapat bantuan dari kelompok milisi Liwa al-Tawhid al-Mujahideen (Brigade Mujahidin Bersatu).

Brigade ini beranggotakan para milisi asing dari luar Suriah. Para anggota brigade itu mengaku berasal dari Aljazair, Chechnya, dan bahkan negara-negara Eropa, seperti Swedia dan Perancis. Seperti diberitakan sebelumnya, para milisi asing ini masuk ke Suriah dari perbatasan dengan Turki.

Puluhan milisi yang ditemui di pintu perbatasan Bab al-Hawa, Kamis lalu, mengaku berasal dari sejumlah negara, seperti Arab Saudi, Maroko, Mesir, Uni Emirat Arab, Libya, Tunisia, dan Somalia. Kehadiran mereka membuat krisis di Suriah makin rumit.

Para pengamat militer melihat, pasukan oposisi akan dipukul mundur dari Aleppo oleh tentara pemerintah yang bersenjata lebih lengkap. Namun, di kawasan pinggiran dan di luar kota-kota besar cengkeraman pasukan pemerintah akan makin lemah seiring dengan kekuatan oposisi yang terus bertambah.

Ayham Kamel, analis militer dari Eurasia Group mengatakan, tentara Assad akan menunjukkan dominasi mereka di Aleppo. Namun, kelompok oposisi terus bertambah kuat saat pasukan pemerintah makin melemah.

Untuk menggelar serangan besar-besaran di Aleppo, misalnya, pasukan pemerintah memanggil bala bantuan pasukannya yang sedang bertempur di beberapa front di kota-kota lain.

Dalam pertemuan dengan Perdana Menteri (PM) Inggris David Cameron, di London, Jumat, PM Turki Recep Tayyip Erdogan menegaskan, dunia tak bisa hanya menonton dan berpangku tangan melihat apa yang sedang terjadi di Aleppo. Erdogan mengatakan, harus ada tindakan bersama dari lembaga-lembaga dunia, seperti PBB, OKI, dan Liga Arab untuk menangani situasi di Suriah.

Sebaliknya, dari Moskwa, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov memperingatkan, selama negara-negara Barat dan para tetangga Suriah masih tetap mendukung oposisi, pertumpahan darah akan terus terjadi.

Menurut dia, tidak realistis menuntut Presiden Assad menghentikan serangan dan kemudian mundur dari kekuasaan saat pasukan oposisi menduduki kota-kota besar di negara itu.

(AFP/Reuters/AP/DHF)


Editor :