shutterstock
Ilustrasi:
DEPOK, KOMPAS.com — "Saya sudah jadi mahasiswa," kata Muhammad Irvan, lulusan Pusat Kegiatan Belajar Bina Insan Mandiri Kota Depok.
Hari Rabu (8/8/2012), Irvan mendapatkan jaket almamater mahasiswa Universitas Diponegoro Semarang. Dia juga sudah mendapatkan kartu tanda mahasiswa Jurusan Sejarah.
Irvan, yang anak sopir taksi di Depok, sebelumnya kesulitan biaya pendaftaran. Keluarganya tidak sanggup menanggung biaya senilai total Rp 16 juta. Model keringanan yang ditawarkan kepadanya hanya mencicil dua kali, dengan angsuran pertama Rp 11 juta.
"Syukurlah ada orang baik yang membantu. Pembayaran pertama saya ditanggung oleh ibu itu. Pembayaran kedua rencananya akan dibantu pihak rektorat," kata M Irvan kepada Kompas.
Ibu yang dimaksud bernama Ida, warga Kota Semarang. Irvan tidak mau menjelaskan detail ibu itu, sebab tidak menginginkan publikasi. Selama empat hari, Irvan ditampung di rumah ibu itu untuk menyelesaikan administrasi pendaftaran.
Pada Rabu siang, Irvan berangkat dari Semarang menuju Kota Depok memberikan kabar gembira kepada orangtuanya. "Sekarang saya masih dalam perjalanan di kereta," katanya.
Selain Irvan, enam anak miskin di PKBM Bina Insan Mandiri lolos seleksi perguruan tinggi negeri. Mereka, antara lain, Alfis Syahrin (Jurusan Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri Jakarta/UNJ), Andika Ramadhan Febriansyah (Jurusan Sejarah UNJ), Bagus Pangke (Jurusan Pendidikan Luar Biasa UNJ), Dwi Wulansari (Jurusan Sastra Indonesia UNJ), Muhammad Muar (Jurusan Manajemen Universitas Jenderal Soedirman), dan Prayudo (Jurusan Pendidikan Luar Biasa UNJ).
Sama halnya dengan Irvan, mereka semua kesulitan membayar biaya pendaftaran kuliah. Sebagian dari mereka sudah mendapatkan donatur, sementara yang lain belum ada kepastian.
Selama sekolah di PKBM itu, mereka tidak dipungut biaya. Sekolah yang juga dikenal sebagai Sekolah Master (masjid terminal) itu menampung anak miskin dan telantar.
