Kamis, 23 Mei 2013
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 23 Mei 2013 | 00:26 WIB
Ketika Para Sopir Bajaj Rindu Kampung Halaman...
Penulis : Robertus Belarminus | Jumat, 17 Agustus 2012 | 13:39 WIB
Dibaca:
|
Share:
Ketika Para Sopir Bajaj Rindu Kampung Halaman... KOMPAS.com/ROBERTUS BELARMINUS Rombongan Anak Remaja Brebes (Arbes) yang akan mudik ke Brebes, Jawa Tengah menggunakan bajaj, Kamis (16/8/2012).

JAKARTA, KOMPAS.com - Mudik menjadi trend masyarakat menjelang Lebaran. Berbagai moda transportasi, baik menggunakan kendaraan pribadi, angkutan komersial seperti bus, kapal laut, maupun pesawat terbang digunakan masyarakat menuju tempat tujuan mudik. Tetapi ada yang unik, kali ini ada rombongan Anak Remaja Brebes (Arbes) yang akan mudik ke Brebes, Jawa Tengah menggunakan bajaj.

Ditemui Kompas.com di depan Halte Busway Cawang Otista, Jatinegara, Jakarta Timur, rombongan yang terdiri dari para pengemudi bajaj itu sedang beristirahat sejenak. Rombongan yang berangkat dari kawasan Radio Dalam, Jakarta Selatan itu menggunakan lima bajaj dengan belasan orang.

Yono (30), seorang pengemudi bajaj mengatakan, dia sudah biasa setiap tahun menggunakan bajaj untuk mudik Lebaran. "Ya, lebih murah sih Mas, biar ngirit. Ini sudah Lebaran kelima saya mudik make bajaj," kata Yono, kepada Kompas.com, Kamis (16/8/2012) malam.

Untuk persiapannya, Yono bersama teman-temannya mengecek mesin dan kesiapan kendaraan roda tiga itu. Mengingat perjalanan yang mereka lalui cukup jauh. "Ya, paling onderdilnya disiapin, lahernya, terus oli, sama mesinnya. Buat persiapan tadi, hari ini kami narik cuma setengah hari," ujar Yono.

Suka duka pun dialami selama perjalanan. Dari mulai bajaj mogok sampai dengan kemacetan. Sesekali mereka istirahat agar mesin bajaj tidak menjadi panas. "Ya, suka dukanya kalau mogok. Kalau bajajnya ngadat gitu. Tapi kami saling tolong-menolong. Makanya kalau ada yang mogok satu, ya kami bantu. Setia kawan, Mas. Kalau macet mah biasa. Namanya juga Lebaran," kata seorang pengemudi lain, Akim (37), yang sudah 13 tahun menjadi pengemudi bajaj.

Menurut Akim, dia dan 14 orang temannya itu nantinya akan menempuh perjalanan selama belasan jam untuk sampai di Brebes. Itupun kalau tidak terhambat kemacetan dalam perjalanan. "Biasanya sih lima belas jam. Tiap berapa jam kami istirahat. Itu kalau nggak macet ya. Bisa lebih juga sih," kata Akim.

Ongkos perjalanan, menurut Odik (23), yang juga pengemudi bajaj, tidaklah besar. Selain itu, ada kesenangan tersendiri untuknya bersama teman-teman mudik menggunakan bajaj. "Kalau buat bensinnya saja sih Rp 100.000. Kalau tambah makan, ya paling Rp 150.000," kata Odik, yang biasa narik bajaj di kawasan Blok M, Jakarta Selatan.

Beberapa pengemudi lain yang ditanya, mengaku membawa oleh-oleh ke kampung seadanya. Menurut mereka, jika mendapat penghasilan baik, hasil menarik bajaj dari hari-hari sebelumnya, mereka biasa membeli baju untuk keluarga di kampung. Jika tidak, mereka tidak membawa apa-apa. Bagi mereka, pengganti oleh-oleh adalah kehadiran mereka sendiri untuk bertemu keluarga di Brebes.

Pada mudik hari ini, mereka berangkat dari kawasan Radio Dalam sekitar pukul 21.00 WIB tadi. Rute yang akan mereka pilih adalah melalui Kalimalang, kemudian menuju Cikarang, dan tembus Pantura. Dari situ langsung menuju Brebes, Jawa Tengah. Berjam-jam akan mereka lalui selama perjalanan. Namun, kekompakan dan kerinduan kampung halaman membulatkan tekad mereka sampai ke tempat tujuan.

Editor :
Hertanto Soebijoto