KOMPAS.com/Vitalis Yogi Trisna
Sebuah rumah di kawasan Bintaro Jaya Sektor 5, Tangerang, Banten, dilalap si jago merah, Sabtu (18/8/2012), saat ditinggal penghuninya mudik.
JAKARTA, KOMPAS.com - Banyak hal yang bisa disebut sebagai alasan terus berulangnya kebakaran di wilayah Jakarta. Salah satu pemicu maraknya kebakaran selama liburan Lebaran adalah kurangnya kewaspadaan warga yang meninggalkan rumah untuk bermudik ke kampung halaman.
"Fenomena yang terus berulang itu menunjukkan tingkat kewaspadaan baik dari sisi penghuni maupun dari komunitas lingkungan sekitarnya," kata pengamat perkotaan Yayat Supriatna saat dihubungi Kompas.com di Jakarta, Senin (20/8/2012).
Dari sisi penghuni rumah, masih banyak penduduk Jakarta yang tidak terlalu memperhatikan kondisi rumah saat akan ditinggalkan. Apalagi, banyak rumah berstatus pembelian tangan kedua atau kontrak jangka pendek.
"Penghuninya mungkin tidak tahu kondisi bangunan yang mudah terbakar atau keamanan instalasi listrik rumah seperti apa," jelas Yayat.
Dengan tingkat kepadatan hunian yang tinggi, dan kualitas bangunan yang mudah terbakar, ditambah tingkat kewaspadaan warga yang rendah, potensi kebakaran hunian di Ibu Kota semakin tinggi.
"Kewaspadaan sebagai komunitas juga turut berpengaruh. Pelekat kesatuan warga sebagai komunitas yang hidup bersama dalam satu lingkungan sudah semakin longgar," urai Yayat terkait unsur komunitas.
Ketidakpedulian warga atas situasi lingkungan menyebabkan situasi rumah kosong yang ditinggal penghuninya tidak begitu menjadi perhatian. Dengan karakter penduduk Jakarta yang memiliki tingkat ego yang tinggi dan prioritas pada kebutuhan ekonomi semakin memungkinkan lunturnya kerja sama untuk mengantisipasi kebakaran di lingkungan hidup bersama.
"Dengan karakter seperti ini sulit terbangun sistem peringatan dini," pengamat masalah perkotaan dari Universitas Trisakti itu menyimpulkan.